Rabu, 16 November 2011

Sabarlah Wahai Jiwa

Rona rembulan tersenyum simpul membawa damai pada gersangnya gurun-gurun jiwa, tikaman dingin semakin menusuk. Mataku menatap setiap sudut waktu yang berkelebat hitam. Aku masih harus melangkah menyusuri jalan ini, meskipun lelah hati menggapai bayang yang kian memudar, membawa diri tertatih pahami jiwa yang letih.  

Sesaat kemudian merinaikan air mata di kelamnya malam...

"Galau" bisikku pada malam menjelang shubuh, tengadahku kemudian pada semesta yang masih memperlihatkan warna kelamnya, warna yang tergelayut pada pekatnya malam. Kapan? Tanyaku ringkih pada selasar waktu, tidak ada reaksi. Terjebak dalam kebisuan dan aku kembali menatap semesta yang merajuk pada kaki langit.

Dengarlah hembusan angin yang merintih sekarat, menghapus setiap sketsa kepedihan meskipun tak semudah air meluruhkan tinta. Semua buat aku gamang menapaki hari yang makin garang, bayangan itu kembali mengukir perih, aku terlumat gurat penat. 

"Rabb, aku letih" tapi aku harus terus berjalan meskipun debu melukai mataku.  Aku tidak akan kalah dan tidak akan menyerah! Masih ada secercah harapan... Sabarlah wahai jiwa!

"Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya, bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa."

Kamis, 10 November 2011

Mengajak Dengan Bijak

"Tawaashau bil haq wa tawaashau bish-shabr"

Potongan ayat tersebut mulai eksis dalam kehidupanku sekitar tahun 2008, ketika aku berselisih paham dengan salah satu temanku, kemudian temanku yang lain menasehatiku dengan memberikan ayat tersebut. Beberapa bulan yang lalu ketika aku pulang ke Bandung, aku menemukan buku "Melukis Cinta" yang aku beli sekitar tahun 2007, sebelum aku berangkat ke Kota Tasikmalaya. Aku baca kembali buku yang isinya menceritakan para aktivis dakwah dalam meraih cinta sejatinya.

"Jika ada pesan yang ingin disampaikan, tunggulah sampai ada saat yang tepat untuk bicara. Jika ada nasihat yang ingin diutarakan, cermatilah kapan kebenaran itu sebaiknya diungkapkan. Ketika Allah menyuruh kita untuk saling menasehati dalam kebenaran, bersama itu pula Allah menyuruh kita saling menasehati dengan kesabaran".

Beberapa hari setelah aku membaca buku tersebut, ketika aku dan teman-temanku kembali belajar bahasa arab di Almanar setelah libur lebaran, sangat kebetulan sekali Ustadz Ahmad (Baarakallaah Yaa Ustadz) membahas tentang surat Al-Asr. Sering sekali ketika ada sesuatu yang berkecamuk dipikiranku, Allah selalu memberi jawaban dan itu seperti mata rantai. Di akhir pekan itu aku mendapat banyak ilmu dari beliau termasuk Fiqih Dakwah.

Seperti biasa aku search di google tentang hal tersebut, "Cara Cerdas Nabi Mengoreksi Kesalahan Orang Lain", itulah buku yang aku dapatkan. Santun dalam menuntun. Penuh hikmah dalam berdakwah. Bijak ketika mengajak kepada yang hak. Mengoreksi tanpa membuat orang sakit hati, malah menerimanya dengan senang hati. Banyak para sahabat tergetar ketika beliau meluruskan mereka ke jalan yang benar. Itulah Nabi Muhammad. Segala ucapan dan perbuatannya selalu dipandu oleh wahyu, begitu pula cara beliau menegur dan mengoreksi kesalahan seseorang.

Kata "dakwah" dari segi bahasa berarti "memanggil, menyeru, atau mengajak", persepsi yang aku dapatkan dari kata dakwah yaitu; merangkul bukan menyeret. Kalau kita ingin sukses mengajak seseorang, berarti kita mesti cerdas memahami watak dan perilaku orang-orang yang akan kita ajak, sehingga kita bisa memilih dan menerapkan metode yang paling efektif. Karena setiap manusia itu memiliki karakter yang berbeda.

Ketika kita ingin melakukan "Ishlah" terhadap diri seseorang, hendaklah kita menyampaikannya dengan bijak. Aku juga termasuk orang yang seringkali menyampaikan sesuatu dengan tidak bijak yang terkadang membuat tali silaturahmi dengan orang tersebut jadi putus, padahal sesama muslim itu bersaudara.

Kalau kata Ukht Ririn "Jangan karena kita sudah tahu tentang suatu ilmu, lantas kita sombong akan ilmu tersebut dan merasa diri paling benar". Di atas langit masih ada langit.

Rabu, 02 November 2011

Meraih Cinta Ilahi

Ada pesan yang masuk di hapeku, sms dari sepupuku yang menyuruh aku untuk pulang ke Lampung pada hari pernikahan tanteku, tidak aku balas dan beberapa saat kemudian "Kriiing... Kriing..." suara hapeku, tidak aku angkat. Galau sedang melanda jiwa "Aku kecewa pada ayahku", aku buka media di hapeku dan aku pilih music, saat seperti ini sebaiknya aku mendengarkan ayat suci yang dilantunkan Musyari Rasyid, sampai di surat At-Takwir ayat 26, hatiku terusik ketika Allah bertanya "Fa aina tadzhabun?". Aku pertama kali mendapatkan penggalan ayat tersebut di buku "Memaknai Kematian" yang aku beli sekitar tahun 2008.

Kemudian aku search di google tentang penggalan ayat tersebut, kebetulan pekerjaan kantor tidak terlalu banyak, aku dihantarkan pada buku berjudul "Meraih Cinta Ilahi" dan ternyata pengarang buku tersebut sama. Di kata pengantar diceritakan tentang pengajian yang diadakan setiap hari ahad di Masjid Al-Munawwarah, pengajian tersebut di buka untuk umum dan murid SMA Plus Muthahhari setiap minggunya mendapat kewajiban untuk menghadiri acara itu secara bergiliran (aku jadi teringat masa-masa di SMA dulu).

"Hendak ke mana kalian pergi?" Sejenak merenungi perjalanan hidup yang telah aku lewati, tersadar setelah jauh melangkah. Wahai Tuhan seluruh alam semesta, betapa aku telah banyak menghabiskan waktuku dengan kesenangan dunia, padahal Engkaulah tempat kembali. Nabi Ibrahim berkata "Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku" dalam surat Ash-Shaffat ayat 99. Ketika itu Nabi Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk dapat menyembah Allah dan berdakwah. Seperti Nabi Ibrahim, seorang mukmin adalah ia yang telah mengambil keputusan bahwa perjalanannya adalah untuk menuju Tuhan.

Pertanyaan "Fa aina tadzhabun" juga dikenal dalam istilah Latin yang menyebutnya, "Quo Vadis?" Istilah Latin itu ditujukkan untuk orang yang menyimpang atau aneh, demikian pula dalam Al-Quran. Allah bertanya kepada orang-orang yang jalannya melenceng yaitu kepada kaum kafir karena mereka mengingkari Al-Qur'an, padahal sudah diterangkan bahwa Al-Qur'an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya berisi pelajaran dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus. Maka ke manakah kalian akan pergi?

Apa sebenarnya tujuan akhir dari perjalanan hidup ini? Apakah itu berupa karir, kedudukan, kekayaan, atau kemasyhuran. Al-Quran senantiasa mengingatkan kita untuk mulai berangkat menuju Tuhan. Allah berfirman: Oleh karena itu, bersegeralah berlari kembali menuju Allah. (QS. Al-Dzariyat : 50). Allah tidak hanya menyuruh kita untuk berjalan, bahkan memerintahkan kita berlari kepadaNya. Hidup terlalu singkat jika kita pergi menuju Tuhan dengan cara berjalan, kita harus berlari sebelum waktu kita di dunia habis dan berakhir, sementara aku masih saja merangkak karena terlena dengan pesona dunia. 

Nabi pernah bertanya kepada para sahabatnya, "Bagaimana keadaan kalian, seandainya di antara kalian suatu saat berada di padang pasir membawa perbekalan dan unta, lalu kalian tertidur; dan ketika bangun, kalian mendapati unta dan perbekalanmu hilang?" Para sahabat menjawab, "Tentu cemas sekali, ya Rasulallah!" Rasulullah melanjutkan, "Di saat kalian cemas, tiba-tiba kalian lihat unta itu kembali dari tempat jauh dan menghampiri kalian dengan membawa seluruh perbekalanmu. Apa perasaan kalian?" Para sahabat kembali menjawab, "Tentu kami akan bahagia sekali." Nabi yang mulia lalu berkata, "Allah akan lebih bahagia lagi melihat hambaNya yang datang kepadaNya daripada kebahagiaan seseorang yang kehilangan unta kemudian ia melihat untanya datang kembali kepadanya."
 
Hadits riwayat Ahmad dan Al-Thabrani berbunyi, "Barangsiapa yang mendekati Allah sesiku, Dia akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekati Allah sambil berjalan, Allah akan menyambutnya sambil berlari." Balasan dari Allah selalu lebih hebat dari apa yang kita lakukan.
 
Dalam surat Luqman ayat 15, Allah juga menyuruh kita untuk mengikuti jalan orang yang kembali kepadaNya, jadi alangkah baiknya jika kita selalu berkumpul dengan orang-orang yang senantiasa berada di jalan menuju Dia. Dan perjalanan menuju Tuhan harus dilakukan dengan menyucikan diri dan membersihkan hati. Hati kita sering terkotori dengan dosa yang kita lakukan, dosa-dosa itu menghijab kita dari Tuhan. Mereka yang mampu berjumpa dengan Tuhan adalah mereka yang membawa hati yang bersih; bukan yang membawa harta dan anak-anaknya. Ya Allah, hamba adalah manusia yang bergelimang dosa, namun ingin kembali kepadaMu dalam keadaan fitri.

Dalam bahasa Arab, kata tazakka yang berarti menyucikan diri, juga berarti "tumbuh". Oleh karena itu, di dalam Islam, pertumbuhan seseorang diukur dari tingkat kesucian dirinya. Semakin suci dan bersih seseorang, semakin tinggi pulalah derajatnya. Psikologi Humanistik juga mengenal hal ini, Abraham Maslow menyebut puncak pertumbuhan manusia adalah pertumbuhan kepribadiannya, ia menyebutnya dengan aktualisasi diri atau self actualization.

Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah kepada Allah dan RasulNya, lalu kematian menjemputnya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah... (QS. An-Nisa : 100).
 
Sebagian ulama menafsirkan kata "rumah" dalam ayat itu sebagai diri, egoisme, atau keakuan kita. Kita selalu berpikir akan kepentingan pribadi semata. Bila kita beribadah, itu pun dilakukan dalam konteks kepentingan diri kita. Kita bersedekah untuk menolak bencana demi keselamatan diri kita. Kita menunaikan shalat agar terhindar dari neraka dan mengharapkan surga. Kita sering beribadah dengan ibadah para pedagang, menjual ibadah kita untuk ditukar dengan pahala.

Hal ini berbeda dengan para ulama, mereka berupaya keluar dari "rumah" mereka untuk beribadah bukan karena mengharap pahala tetapi karena rasa terima kasih kepadaNya. Mereka merasa berhutang budi atas segala anugerah Allah, itulah ibadah yang sesungguhnya. Hubungan mukmin dengan Tuhannya bukanlah hubungan bisnis, melainkan hubungan cinta. Al-Quran menyebut orang yang beribadah kepada Tuhan tanpa meninggalkan dirinya karena terlalu cinta akan dirinya, sebagai orang yang telah mengambil Tuhan selain Allah. Ia mencintai dirinya lebih dari ia mencintai Tuhan. 

Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sama seperti mereka mencintai Allah. Sementara orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah. (QS. Al-Baqarah : 165).

Kamis, 13 Oktober 2011

Menanti Sebuah Jawaban

Menelusup hariku dengan harapan...

"Ah, kenapa hatiku masih tertaut padanya?" batinku berbisik, hari mulai senja ku lihat di luar sana jingga mulai menghiasi langit. Jam sudah menunjukkan waktu pulang, seperti biasa aku pulang bersama si Celi, setibanya di kostan aku lipat sepeda dan menyimpannya di bawah tangga.

Setelah menyimpan tas dan jaket di kursi sofa, aku ingin menikmati suasana senja, segera saja aku menaiki tangga menuju tempat jemuran. Aku tertegun karena tadi siang temanku mengatakan hal yang mengusik hatiku, sekejap saja siluet senja dan hembusan angin membuat aku hanyut dalam susasana. Aku menatap hamparan langit biru yang terbentang, "Allah" hanya dengan mengingatMu hati menjadi tenang.

Aku masih terpaku melihat indahnya lukisan Sang Khalik, lantunan pujian menemani kesendirianku. Beberapa ayat yang ku baca belakangan ini pas sekali dengan suasana hatiku "Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa" Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ya, segala sesuatu yang telah Allah tetapkan sudah dengan pertimbangan, seberat apapun beban yang sedang kita pikul itu semua sudah sesuai kadarnya.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

                                                                            ***

Setelah wisata hati di ayat-ayat terakhir surat Al-Baqarah, kemudian penggalan surat Ali-Imran "Zuyyina linnaasi hubbusy-syahawaat" Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan". Tidak berapa lama di status facebook yang baru saja aku update, ada seseorang yang mengirim hadist:

"Ahbib habibaka haunan ma, 'asa an yakuna baghidhoka yauman ma. Wa abghidh baghidhoka haunan ma, 'asa an yakuna habibaka yauman ma" (Cintailah kekasihmu itu sekedarnya saja, boleh jadi kamu akan membencinya suatu ketika. Dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja, boleh jadi kamu akan mencintainya suatu ketika) (HR. Tirmidzi).

Aku tahu jawabannya; batas antara cinta dan benci itu sangatlah tipis.

Semoga kau tahu isi hatiku...

Kamis, 06 Oktober 2011

Perjalanan Separuh Purnama

"Perjalanan Separuh Purnama" dulu aku membeli buku ini karena ingin mengikuti perlombaan di Toko Buku Gramedia, ada beberapa judul lain dalam perlombaan tersebut namun aku memilih buku ini karena kata terakhir adalah nama seseorang yang aku suka. Aku sudah tidak ingat apa isi buku ini dan bukunya ku simpan di Bandung, aku teringat kembali karena ada seseorang yang memberikan jempolnya di facebook pada tiga statusku dan mengomentari salah satunya.

Seseorang itu adalah dia, aku dan dia pernah satu kelas ketika kami masih duduk di kelas 1 SMA, ketika itu aku sering digosipkan dengan salah satu teman kami yang sekaligus sahabat dekatnya. Aku membuka account facebooknya, ku perhatikan dia sedang berada di daerah yang jauh, Gaza Palestine. Dulu di sekolah kami ada kegiatan menghapal surat-surat pendek, pernah sebelum dia setoran pada guru agama kami, dia meminta tolong padaku untuk menyimak hapalan surat yang ia ucapkan.

Di kelas 2 kami berpisah, aku memilih untuk masuk kelas IPS dan dia di kelas IPA, namun kami masih berada dalam komunitas yang sama karena memilih ekstrakulikuler yang sama Bahasa Persia dan olahraga Badminton, ketika penerimaan murid baru kemudian kami berdua di pilih untuk mempresentasikan kemampuan berbahasa kami di depan adik kelas, agar mereka tertarik masuk ekstrakulikuler Bahasa Persia.

Setahuku dia tidak mengetahui perasaanku ini, karena aku memang bukan orang yang terbiasa mengungkapkan perasaanku pada orang yang aku suka, hanya teman-teman terdekatku yang mengetahui hal ini. Sekitar tahun 2006 aku bekerja di Bekasi, suatu hari ketika aku akan pulang ke Bandung, aku menunggu bus di Tol Timur dan tanpa sengaja bertemu dengannya, nama tol ini sama dengan nama panjangnya.

Sedikit intermezo dari judul yang akan aku bahas...

Aku menyukai nuansa malam, mulai dari suasananya yang hening, kerlip bintang, sinar rembulan sampai kepekatan yang terkadang terasa mencekam. Sama seperti ketertarikanku pada pesona yang disuguhkan pantai, deburan ombak, butiran pasir, laut biru yang terhampar luas, dan yang paling aku suka saat terpaku menyaksikan matahari tenggelam perlahan dan siluet pantai senja yang indah, subhanallah.

Salah satu yang membuat aku tertegun pada pesona malam adalah ketika hamparan langit dihiasi indahnya bulan purnama. Purnama adalah fase di mana keadaan bulan nampak bulat sempurna dari bumi, pada saat itu bumi terletak hampir segaris di antara matahari dan bulan, sehingga seluruh permukaan bulan yang diterangi matahari terlihat jelas dari arah bumi. Kebalikannya adalah saat bulan mati, yaitu saat bulan terletak pada hampir segaris di antara matahari dan bumi, sehingga yang "terlihat" dari bumi adalah sisi belakang bulan yang gelap, alias tidak nampak apa-apa.

Di antara kedua waktu itu terdapat keadaan bulan separuh dan bulan sabit, yakni pada saat posisi bulan terhadap bumi membentuk sudut tertentu terhadap garis bumi - matahari. Pada saat itu, hanya sebagian permukaan bulan yang disinari matahari yang terlihat dari bumi. Fase yang paling aku suka adalah di mana bulan sedang dalam keaadaan sabit dan dalam keadaan purnama. Bulan sabit atau hilal yang muncul menandai datangnya awal bulan Hijriyah yaitu bulan dalam kalender Islam.

“Dari Ibnu Umar RA, dia berkata, dulu Rasulullah SAW apabila melihat Al-Hilal beliau mengucapkan doa: "Allahu akbar. Allahumma ahillahu ‘alainaa bil-amni wal-iimaan was-salaamati wal-islaami wat-taufiiqi limaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa. Rabunaa wa rabbukallaahu."  

Allah Maha Besar, Ya Allah, tampakkan al-hilal (bulan tanggal satu) itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, dengan keselamatan dan Islam, serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau cintai dan Engkau Ridhai. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Kalimith Thayyib no. 162.

Dengan terbit bulan sabit dapat menggugah spirit untuk berharap bahwa bulan purnama akan datang. Seperti yang pernah dikatakan oleh Buya Hamka: "Apabila bulan sabit terbit di ufuk barat, maka bolehlah berharap bahwa akan datang bulan purnama". Belajar filosofi dari bulan sabit; semangat dan optimisme untuk terus bergerak maju menuju masa depan yang lebih cerah dan gemilang insya Allah akan menjadi kenyataan bagaikan bulan sabit yang kecil kemudian membesar menjadi purnama yang menyinari bumi.

Ada keadaan bulan yang ternyata bisa kita analogikan dengan kehidupan kita di akhir waktu nanti, "Separuh Purnama" menurutku fase paling  penting dalam kehidupan ini adalah akhir dari perjalanan hidup kita (husnul khatimah atau su'ul khatimah), ketika start dalam menjalani hidup banyak serangkaian proses yang mesti kita lewati, dan ketika kita akan mendekati garis finish biasanya rintangan yang menghadang akan lebih banyak. Kita tidak pernah tahu akhir dari perjalanan hidup kita, saat yang paling menentukan adalah detik-detik kita menghembuskan nafas terakhir, sedangkan kita tidak tahu kapan ajal menjelang. 

Mampukah kita menjalani kehidupan ini dengan baik sampai ajal menjemput?. "Perjalanan Separuh Purnama" ketika bulan sabit menuju proses bulan separuh kemudian mampu melengkapi separuh purnamanya, setelah melewati purnama bulan akan mulai meredup.

Rabu, 05 Oktober 2011

Ishbirii Yaa Nafsii

Aku terbangun dari tidurku, masih jam sembilan dan udara terasa panas hingga badanku keringatan, aku tadi tidur jam setengah delapan setelah pulang dari angkringan bersama Mas Udin, ku lihat ada pesan masuk di hape, balasan sms dari Pak Rahmat  "Iya, keenakan Udin. Ya udah nanti jangan Udin terus yang di ajak curhat. Gantian sama saya ya Din". Berarti tidurku tadi cukup lelap, karena biasanya aku sering terbangun jika ada bunyi sms.

Awalnya aku mengajak Mas Udin ke Angkringan Pramuka untuk menikmati susu jahe sekalian curhat, tapi setelah sampai di sana kami tidak membicarakan masalah yang sedang aku alami, hanya Allah yang tahu apa yang membuat aku menangis setelah menunaikan shalat maghrib (bukan masalah cinta), aku pasti akan mendapatkan jawaban segala risau hatiku, "La Tahzan". 

Aku belum menunaikan shalat isya, aku ambil air wudhu, malam itu isak tangis mewarnai shalat isyaku, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" Al-Baqarah : 153. Aku mengadu padaNya "Allah" ku dekap erat mushafku, aku pasti bisa melewati ini semua karena aku memiliki Hati Seluas Samudera yang akan menenggelamkan semua masalah yang ada. Ishbirii Yaa Nafsii (Bersabarlah wahai jiwaku).

“Tiada seorangpun yang dapat membedakan antara Sabar dan Mengeluh, melainkan ia menemukan diantara keduanya ada jalan yang berbeda.  Adapun Sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun Mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni hanya sia-sia belaka” ku temukan kutipan ini dari 101 Kisah Teladan.

Minggu, 02 Oktober 2011

Senandung Lagu Cinta

Senadung lagu cinta, tercipta untukmu...

Di suatu pagi yang cerah ketika aku asyik meluncur dengan si Celi untuk beragkat ke kantor "Gubrak" aku menabrak pohon, aku berpapasan dengan seorang lelaki, padahal lelaki itu wajahnya biasa saja, sejak kapan levelku jadi turun? Ku ceritakan hal ini pada temanku di Yahoo Messenger, dia bilang: "Lo segh yang terbayang wajah si Aa mulu, udah bilang aja langsung, biar dia tau perasaan lo".

Mungkin karena orang di sekelilingku sering mengaitkan aku dengannya, aku jadi terbawa perasaan padanya, anehnya pernah ketika membeli bensin, pegawai bensin yang melayani bernama dia, terus ketika aku membaca novel Terminal Cinta Terakhir ada nama dia (novelnya tidak aku baca lagi karena terlalu vulgar), Irjen Polisi yang sering aku lihat di televisi bernama dia, kemudian ada salah satu pengamat sepak bola yang sedang berbicara di televisi bernama dia, lebih lucu lagi ketika aku menonton OVJ, si Sule yang sering memakai namaku itu sudah biasa tapi kebetulan sekali saat itu si Olga memakai nama dia.

Sepertinya nama tersebut memang sudah menjadi syndrome dalam hidupku, "Ya Allah, kenapa namanya ada di sekitarku? Kenapa aku jadi jatuh cinta padanya ya?". Mereka semua sering mengingatkan aku padanya, bahkan ketika dia mengupload foto bersama wanita, tiga orang yang laporan padaku mengenai hal itu dan menanyakan apakah aku cemburu atau tidak, masya Allah. Untuk apa aku cemburu pada sesuatu yang bukan hakku.

Perasaan ini persis ketika aku menyukai seseorang, yang kemudian namanya ada di mana-mana, namun aku harus patah hati karena ternyata dia telah beristri, aku menyukainya karena kepintaran dan sikap bijaknya, subhanallah "Uhibbuka lillah". Atau ketika dulu aku menyukai adik kelasku bernama Wildan, berawal karena dia mengucapkan "Assalamu'alaikum Teh" jadi tidak salah jika ada ungkapan "Love at the first sight", awalnya hanya aku yang menikmati sendiri kebahagian mencintainya, tetapi sahabatku Fatya yang juga temannya menyampaikan tentang perasaanku itu.

"Gayung bersambut" hingga pernah terjalin komunikasi yang sedikit melibatkan perasaan aku dan dia, akupun pernah berlebaran di Kota Pontianak karena temanku Mega mengajakku untuk mudik ke kota kelahirannya yang kebetulan itu adalah kampung halaman adik kelasku itu, dan ketika liburan sekolah akan berakhir secara tidak sengaja dalam perjalanan pulang kami berada di kapal yang sama. Ketika aku betemu dengannya di kapal, jantungku berdegup kencang, meskipun aku dan dia tidak mengobrol berdua, tetap saja aku tidak bisa berkutik, sesekali aku melihat wajahnya namun harus menunduk malu ketika pandangan kami beradu, seperti ada yang menusuk jantungku. Tapi karena banyak faktor yang membuat kami pada akhirnya tak pernah menjalin hubungan yang istimewa.

Berbicara soal cinta adalah berbicara soal hati dan perasaan, terkadang rasio tidak mampu menyimpulkan sesuatu yang terjadi karena reaksi cinta. Hakikatnya cinta adalah sebuah totalitas, di mana gagasan, emosi dan tindakan bergabung menjadi satu kesatuan yang utuh dan bekerja secara tim untuk kebahagiaan dan kebaikan orang yang dicintai. Seperti kata Serial Cinta:

Ukuran integrasi cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata, terurai dalam laku. Kalau hanya berhenti dalam hati itu cinta yang lemah dan tidak berdaya, kalau hanya berhenti dalam kata itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata, kalau cinta sudah terurai jadi laku cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Oleh sebab itu cinta tidak cukup hanya gagasan dan emosi saja tapi harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Dan untuk menjadi pencinta sejati kita harus memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh, karena orang-orang dengan kepribadian yang lemah tidak dapat mencintai dengan kuat. Mencintai membutuhkan perjuangan untuk mengembangkan kualitas cinta itu sendiri, dan hanya orang-orang yang berkepribadian kuat dan tangguh yang dapat merealisasikan senandung lagu cinta yang ia rasakan.