"Bahkan saat kau memutuskan untuk membuang jauh-jauh bayangan dirinya dari hidupmu pun, dia tetap berjanji pada dirinya untuk memberi yang terbaik sekuat yang ia mampu untuk bidadarinya. Maka jika apa yang kau katakan dua hari yang silam itu benar, tolong sampaikan manfaat apa yang sudah ia peroleh dan harapkan dari cintanya yang telah luput dari pengetahuannya. Mentarimu hanya manusia biasa. Ada banyak hal yang alpa dari kesadarannya. Sampaikanlah padanya agar ia bisa menyebutnya dalam do'a dan istighfarnya." kalimat itu membuat Dewi terpaku dalam perenungan.
"Berikan aku waktu tuk menikmati rasa ini. Aku hanya butuh waktu tuk memahat puing-puing asa menjadi bangunan keyakinan yang kokoh." batin Dewi berbisik.
Seperti janji-Nya mempergilirkan siang dan malam, pun roda kehidupan terus berputar, adakalanya langit biru, terkadang gelap pekat memayungi. Jika kini panas terik ditingkahi rinai hujan, mungkin esok hujan sepanjang hari. Jika hari ini cerah menghangatkan, mungkin esok terik matahari membakar.
Ya, Mentari tak selalu hadir menyapa, terkadang mendung. Begitu pun dengan cintanya, tapi dengan segala keterbatasan yang ada, ia berani mencintai kekasihnya. Dewi bisa merasakan hangatnya sinar Mentari, meski terkadang terik panasnya menyengat. Dewi pun bisa merasakan pelita itu menerangi bilik-bilik hatinya, meski terkadang kegelapan memayungi. Mentari hanya manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Hakikatnya, kesempurnaan hanya milik Sang Khalik.
"Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepadamu. Namun cinta dalam jiwa hanyalah padamu. Maafkanlah bila hati, tak sempurna mencintaimu. Dalam dada ku harap hanya, dirimu yang bertahta" lirik lagu "Rapuh" menemani lamunan Dewi.
Mentari tak selalu menemanimu setiap saat, jika senja tiba ia harus
kembali ke peraduannya. Tapi tugasnya tak selesai sampai di situ, karena sejatinya
Mentari sedang menyinari belahan bumi yang lain. Meskipun Dewi tak
bisa melihat Mentari di malam hari, tapi cahaya rembulan adalah
pantulan dari sinarnya. Lihat bagaimana cara Mentari mencinta, dalam
ketiadaannya ia masih berusaha memberikan yang terbaik untuk kekasihnya.
Ternyata kehadiran Mentari telah menggangu sistem keseimbangan hati Dewi. Tak terasa bulu mata
Dewi yang lentik basah oleh air mata. "Dan matahari berjalan ke tempat peristirahatannya"
Rabu, 12 Desember 2012
Senin, 03 Desember 2012
Rindu Sinar Mentari
"Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu, seperti udara yang ku hela kau selalu ada. Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang, tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi"
"Biarkan rindu itu tetap ada, akan aku titipkan rindu pada Mentari pagi" Mentari selalu berusaha mengahangatkan pagi dengan sinarnya. Dewi tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca pada akhirnya air mata itu tak terbendung lagi.
"Ada yang menunggumu di telaga rindu" ucap sekeping hati pada Mentari. Telaga yang tak
pernah kering akan kerinduan yang mendalam.
Dewi rindu pada semburat cahaya di antara rindang pepohonan. Lalu ia berteriak "Mentari, aku di sini!" tapi teriakan itu hanya bergema di hatinya.
Diam penuh gejolak dalam
hati yang tersamarkan oleh senyuman. Apa yang
bisa terlihat saat senyum mengembang di antara perih yang masih tersisa?
"Senyum itu melegakan hati" ucap Mentari beberapa tahun silam.
Dewi menatap Mentari dari kejauhan, namun hanya sebatas menatap. Mulutnya seolah terkunci untuk memanggil Mentari. Rindu hanya sebuah rindu yang tak
terkatakan. Dewi bersandar di bawah pohon rindang, dalam
dinginnya kerinduan yang tak tersampaikan. Detik demi detik waktu terus
berjalan.
"Di mana Dewi?" Mentari terlihat gelisah, ada segurat kecewa di wajahnya.
Mentari pun beranjak pergi, Dewi hanya menatap kepergiannya. Ia tak ingin menyentuh hati Mentari lagi. Senja menenggelamkan Mentari di ufuk kerinduan. Dewi menghela nafas, mencoba menerima
dan tetap dalam kebisuan. Dan jarak menjadikan
semuanya tetap dalam kerinduan.
Ketika gejolak itu semakin kuat, rindu itu
membakar hati. "Terima kasih atas hari, aku bisa melihat Mentari meski dari jauh"
"Biarkan rindu itu tetap ada, akan aku titipkan rindu pada Mentari pagi" Mentari selalu berusaha mengahangatkan pagi dengan sinarnya. Dewi tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca pada akhirnya air mata itu tak terbendung lagi.
"Tak perlu meminta maaf, jika harus ada yang disalahkan itu adalah aku" Dewi teringat perkataan Mentari.
Sabtu, 01 Desember 2012
Setulus Cinta Mentari
“Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu. Jalan pikiranmu buatku ragu, tak mungkin ini terus bertahan”
Sekali lagi Dewi tersesat pada gulungan rasa cinta. Meskipun lelah, ia masih belum bisa mengusir seseorang yang telah membelenggu hatinya. Terdengar begitu random? Ya, begitulah. Untuk kesekian kalinya Dewi harus belajar melupakan seseorang.
Sore ini hujan, tanpa sengaja Dewi terseret dalam lorong kenangan, terpelanting bertubi-tubi. Hujan sangat sukses mendramatisir semuanya. Seakan cerita lama sedang bebas berkoar-koar dalam benak Dewi, menyemai benih-benih inspirasi.
Dewi membuang pandangan ke arah jendela yang sudah berlumur buih-buih rerintik, mereka seperti sedang menertawai perempuan berkerudung ungu itu. Dewi tengah jatuh di titik jenuh, tanpa sengaja bulir air menetes dari pelupuk matanya. Hujan selalu mengerti saat lengkung senyum terbentuk tapi jiwa meneriaki perih. Ia mewakili air mata yang terdiam.
"Aku butuh Mentari" batin Dewi. Tapi kali ini Dewi pun tak mungkin mengharapkan Mentari. Hujan membuat Mentari bersembunyi di balik awan.
"Kring... Kring..." suara dering telepon genggam. Pintu hati yang berdecit memaksa meraih kotak ungu itu.
"Apa yang tidak mungkin di dunia ini" begitu kata Mentari ketika mendengarkan keluh kesah Dewi.
"Bolehkah aku hadir dalam mimpimu? Menyelinap diam-diam sekedar menyapa dan berucap terima kasih" pinta Dewi.
"Setelah itu?" tanya Mentari.
"Tenang saja, aku akan pergi secepat air yang terbakar matahari" dalam sadar Dewi berharap Mentari menahannya, sayangnya ragu terlanjur menyebar.
Pikiran Dewi mulai menjelajah waktu, memutar cuplikan cerita terdahulu, memproyeksikan sang Mentari. "Kau yang selalu merotasikan spektrum di bawah timbunan waktu. Namun akhirnya harus aku sudahi memimpikanmu. Kau yang masih jadi bagian do'aku" bulir air itu kembali menetes di pipinya.
Kabut rindu tumpah, kali ini semakin tebal. Dada Dewi mendadak sesak! "Mengetahuimu mencintaiku, seakan menjatuhkan musim sebelum waktunya. Sehingga merindukanmu dan tidak tersalur akan menjadi begitu meracun pada sirkulasi jantungku" Dewi sulit menepis rasa rindunya pada Mentari.
"Ah, aku masih mencintainya" dalam nanar Dewi masih berharap, tapi biar hujan menghapus jejak Mentari. Mungkin Dewi akan bertemu seseorang yang akan mencintainya setulus cinta Mentari.
Minggu, 11 November 2012
Biarkan Mentari Berlalu
Tanpa ditulis pun, kenangan tetap serupa buku. Lembar demi lembarnya selalu terbuka tiap kali kita mengingatnya. Kenangan itu ibarat cermin. Dari bening dan buramnya, dari utuh dan retaknya, kita berkaca. Jika kenangan kita adalah memar senja, di titik itulah kita mengingatnya. Jika kenangan kita adalah pelangi senja, maka di tempat kita berdiri sekarang, aku yakin kita berbahagia.
Dewi mengukir kenangan dalam kesendirian, merangkainya satu persatu dalam dinding hatinya. Kenangan itu menjadi desiran yang bisa dinikmatinya setiap waktu, jiwanya menggapai setiap kisi-kisi indah dari kenangan itu. Kenangan tentang Sang Mentari.
Kenangan itu begitu terpeta di jiwanya. Betapa tidak, selama tiga tahun ia mengenal Mentari. Seseorang yang selama ini menjadi motivator untuk Dewi berubah menjadi lebih baik. Tapi mungkin Dewi tak akan lagi bertemu dengannya. Kenapa?
Mentari tak lagi menyiramkan benderang cahaya di pucuk langit hati Dewi. Sejak beberapa hari lalu, pucuk cahaya itu telah memaklumatkan keredupannya. Di hati Dewi, Mentari tak lagi bermandikan sejuta kerlap kerlip bagaikan di sebuah negeri kunang-kunang.
Jelaga cahaya yang mempesona itu hilang. Dewi tertatih-tatih mengembalikan detail ingatannya dalam buku kenangan. Dan salah satu isi jalan kenangan yang paling berkesan itu, yang ia ingat secara sempurna, ketika Mentari selalu menyejukkan hatinya. Tapi itu semua hanya akan menjadi sejumput kisah di masa lalu.
Mentari berlalu di hadapan Dewi, terbenam membawa sejuta kenangan. Dan Dewi tak akan menunggu lagi kehadirannya. Biarkan hari esok Mentari terbit tanpa Dewi di sampingnya. Meskipun Dewi akan terbakar rindu sinarnya. Tapi Dewi harus melepas kepergian Mentari.
"Tolong jaga dan selalu ingat semua yang positif yang kau dapatkan dari aku, lalu buanglah jauh-jauh semua yang negatif dari aku" pesan terakhir Mentari.
Dewi mengukir kenangan dalam kesendirian, merangkainya satu persatu dalam dinding hatinya. Kenangan itu menjadi desiran yang bisa dinikmatinya setiap waktu, jiwanya menggapai setiap kisi-kisi indah dari kenangan itu. Kenangan tentang Sang Mentari.
Kenangan itu begitu terpeta di jiwanya. Betapa tidak, selama tiga tahun ia mengenal Mentari. Seseorang yang selama ini menjadi motivator untuk Dewi berubah menjadi lebih baik. Tapi mungkin Dewi tak akan lagi bertemu dengannya. Kenapa?
Mentari tak lagi menyiramkan benderang cahaya di pucuk langit hati Dewi. Sejak beberapa hari lalu, pucuk cahaya itu telah memaklumatkan keredupannya. Di hati Dewi, Mentari tak lagi bermandikan sejuta kerlap kerlip bagaikan di sebuah negeri kunang-kunang.
Jelaga cahaya yang mempesona itu hilang. Dewi tertatih-tatih mengembalikan detail ingatannya dalam buku kenangan. Dan salah satu isi jalan kenangan yang paling berkesan itu, yang ia ingat secara sempurna, ketika Mentari selalu menyejukkan hatinya. Tapi itu semua hanya akan menjadi sejumput kisah di masa lalu.
Mentari berlalu di hadapan Dewi, terbenam membawa sejuta kenangan. Dan Dewi tak akan menunggu lagi kehadirannya. Biarkan hari esok Mentari terbit tanpa Dewi di sampingnya. Meskipun Dewi akan terbakar rindu sinarnya. Tapi Dewi harus melepas kepergian Mentari.
"Tolong jaga dan selalu ingat semua yang positif yang kau dapatkan dari aku, lalu buanglah jauh-jauh semua yang negatif dari aku" pesan terakhir Mentari.
Senin, 17 September 2012
Secarik Kertas Harapan
"Senangnya hatiku, hilang panas demamku" senang rasanya bergelut dengan suasana baru di kampus, bersyukur sekali karena Allah telah mengabulkan satu persatu harapanku, 10 tahun yang lalu aku pernah menulis di secarik kertas, tentang impianku 10 tahun mendatang. Di mulai dari harapan lulus Ujian Akhir Nasional "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?", kemudian aku ikut SPBM saat itu aku mengambil pilihan pertama Komunikasi dan pilihan kedua Bahasa Indonesia di UNPAD tapi sayangnya aku tidak lolos SPMB.
Akhirnya aku masuk salah satu Lembaga Pendidikan di Bandung, setahun kemudian aku sudah mulai training di perusahaan, kemudian bekerja. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kerja dan memilih untuk menuntut ilmu di Pesatren yang berada di Tasikmalaya "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" dan ini juga salah satu harapanku ketika masih duduk di SMA.
Hampir satu tahun aku belajar di sana, tapi akupun memutuskan untuk keluar dan mencari rezeki lagi. Aku kembali bekerja di Jakarta, dan beberapa bulan kemudian aku masuk kuliah di Universitas Bung Karno, tapi jurusan yang aku ambil bukan Komunikasi atau Bahasa Indonesia jutru Ilmu Hukum, padahal cita-citaku di secarik kertas itu menjadi Sastrawan dan Wartawan. Tapi intinya harapanku terkabul kembali kerja sambil kuliah "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
Setahun kemudian Allah mengabulkan lagi harapanku, belajar Bahasa Arab di Almanar "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Tahun ini Allah pun mengabulkan lagi harapanku, aku bertemu dengan seorang Ustadz yang berkecimpung di dunia jurnalistik, aku mulai belajar membuat artikel dan ternyata saudaraku mengajakku untuk bergabung di RRI Bandung. Berarti cita-citaku untuk menjadi Sastrawan meskipun tidak sekolah sastra dan cita-citaku untuk menjadi Wartawan meskipun tidak sekolah jurnalistik itu semua bisa terwujud "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
Dulu waktu aku masih kecil, aku sering menulis namaku dengan gelar yang berderet dan alhamdulillah aku sudah punya gelar Sarjana Hukum "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?", dua tahun lagi isnya Allah aku dapat gelar Magister Hukum, dan ketika aku akan masuk kuliah S2, ayahku bilang "Kalau mau sekolah sampai jadi Doktor silahkan" Subhanallah "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
Aku di tahun ini bercerita pada temanku, ingin belajar politik dan lagi Dia mengabulkan harapanku di tahun ini juga, salah satu mata kuliahku di magister adalah Politik Hukum, awal aku orientasi, ada kuliah umum bersama Burhanudin Muhtadi mengenai politik, seminggu kemudian ada kuliah umum bersama Ketua Komisi Yudisial dan membahas tentang hukum dan politik. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya, ia tidak terlalu cepat memberi dan tidak pula terlambat. Termasuk ia yang sedang aku nanti, aku menantimu karena Allah.
Akhirnya aku masuk salah satu Lembaga Pendidikan di Bandung, setahun kemudian aku sudah mulai training di perusahaan, kemudian bekerja. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kerja dan memilih untuk menuntut ilmu di Pesatren yang berada di Tasikmalaya "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" dan ini juga salah satu harapanku ketika masih duduk di SMA.
Hampir satu tahun aku belajar di sana, tapi akupun memutuskan untuk keluar dan mencari rezeki lagi. Aku kembali bekerja di Jakarta, dan beberapa bulan kemudian aku masuk kuliah di Universitas Bung Karno, tapi jurusan yang aku ambil bukan Komunikasi atau Bahasa Indonesia jutru Ilmu Hukum, padahal cita-citaku di secarik kertas itu menjadi Sastrawan dan Wartawan. Tapi intinya harapanku terkabul kembali kerja sambil kuliah "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
Setahun kemudian Allah mengabulkan lagi harapanku, belajar Bahasa Arab di Almanar "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Tahun ini Allah pun mengabulkan lagi harapanku, aku bertemu dengan seorang Ustadz yang berkecimpung di dunia jurnalistik, aku mulai belajar membuat artikel dan ternyata saudaraku mengajakku untuk bergabung di RRI Bandung. Berarti cita-citaku untuk menjadi Sastrawan meskipun tidak sekolah sastra dan cita-citaku untuk menjadi Wartawan meskipun tidak sekolah jurnalistik itu semua bisa terwujud "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
Dulu waktu aku masih kecil, aku sering menulis namaku dengan gelar yang berderet dan alhamdulillah aku sudah punya gelar Sarjana Hukum "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?", dua tahun lagi isnya Allah aku dapat gelar Magister Hukum, dan ketika aku akan masuk kuliah S2, ayahku bilang "Kalau mau sekolah sampai jadi Doktor silahkan" Subhanallah "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
Aku di tahun ini bercerita pada temanku, ingin belajar politik dan lagi Dia mengabulkan harapanku di tahun ini juga, salah satu mata kuliahku di magister adalah Politik Hukum, awal aku orientasi, ada kuliah umum bersama Burhanudin Muhtadi mengenai politik, seminggu kemudian ada kuliah umum bersama Ketua Komisi Yudisial dan membahas tentang hukum dan politik. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya, ia tidak terlalu cepat memberi dan tidak pula terlambat. Termasuk ia yang sedang aku nanti, aku menantimu karena Allah.
Senin, 10 September 2012
Rona Jingga Mentari
"Morning Sunshine" rona jinggamu meyelusup di antara celah-celah hatiku, menyapa reranting kecil harapan, memanggil kuntum bunga cinta bermekaran bersama lembayung pagi. Lihat bagaimana cahayamu terbiaskan butir-butir air hujan, membalut suasana indah di pesisir pantai rindu. "Aku tahu mentari ada di hati, ia mewarnai hatiku dengan pelangi".
Dini hari gemericik air hujan menemani tidur Dewi, meskipun merasa kurang nyenyak tapi ia sangat bersyukur karena hujan membasahi Jakarta setelah kemarau panjang. Sama halnya dengan kegersangan yang melanda hati Dewi beberapa hari ini. Tapi lihat bagaimana Allah membolak-balikkan hati seseorang. Selalu ada harapan baru untuk menyongsong masa depan.
"Ya Allah, obati hatiku" itu do'a Dewi beberapa hari yang lalu. Dan aku bisa melihat bagaimana kondisi Dewi pagi ini setelah menerima kabar berita dari seseorang. Tapi musim semi yang terjadi di hati Dewi saat ini bukan karena sms yang ia terima tadi pagi. Ya, bukan sms itu! Melainkan motivasi yang diberikan oleh ibunda tercinta dan kedua sepupunya Puspita dan Utari serta dari Ustadz Basyir dan Ustadz Husain.
Dewi sedang membangun semangat baru dari kepingan-kepingan harapan yang terserak karena ketidakpastian. Ia teringat perkataan dari Ketua Komisi Yudisial ketika beliau bertanya apakah Dewi sudah menikah apa belum, kemudian Prof. Eman berkata "Saya punya calon ganteng".
Ya, saatnya Dewi mengabaikan orang-orang yang selama ini hanya mengganggu hati dan pikiran Dewi. Saatnya Dewi mulai mengikis semua angan-angan yang tak pasti. Perhatikan di luar sana masih teramat banyak orang-orang yang menyayangi Dewi, dan mereka tak ingin melihat Dewi larut dalam suasana seperti ini. Jadi jalan terbaik adalah mengabaikan orang-orang yang mungkin hanya akan menyisakan luka di hati Dewi.
Dini hari gemericik air hujan menemani tidur Dewi, meskipun merasa kurang nyenyak tapi ia sangat bersyukur karena hujan membasahi Jakarta setelah kemarau panjang. Sama halnya dengan kegersangan yang melanda hati Dewi beberapa hari ini. Tapi lihat bagaimana Allah membolak-balikkan hati seseorang. Selalu ada harapan baru untuk menyongsong masa depan.
"Ya Allah, obati hatiku" itu do'a Dewi beberapa hari yang lalu. Dan aku bisa melihat bagaimana kondisi Dewi pagi ini setelah menerima kabar berita dari seseorang. Tapi musim semi yang terjadi di hati Dewi saat ini bukan karena sms yang ia terima tadi pagi. Ya, bukan sms itu! Melainkan motivasi yang diberikan oleh ibunda tercinta dan kedua sepupunya Puspita dan Utari serta dari Ustadz Basyir dan Ustadz Husain.
Dewi sedang membangun semangat baru dari kepingan-kepingan harapan yang terserak karena ketidakpastian. Ia teringat perkataan dari Ketua Komisi Yudisial ketika beliau bertanya apakah Dewi sudah menikah apa belum, kemudian Prof. Eman berkata "Saya punya calon ganteng".
Ya, saatnya Dewi mengabaikan orang-orang yang selama ini hanya mengganggu hati dan pikiran Dewi. Saatnya Dewi mulai mengikis semua angan-angan yang tak pasti. Perhatikan di luar sana masih teramat banyak orang-orang yang menyayangi Dewi, dan mereka tak ingin melihat Dewi larut dalam suasana seperti ini. Jadi jalan terbaik adalah mengabaikan orang-orang yang mungkin hanya akan menyisakan luka di hati Dewi.
Rabu, 05 September 2012
Pesan Rindu Mentari
"Kau inspiratorku tak hadir di sisiku"
Sore itu sinar mentari menyorot wajah Dewi, ia sedang menanti sebuah bus untuk pulang ke kota kelahirannya, meninggalkan kota tempat ia mencari rezeki. Ada rasa haru menyelimuti hati Dewi, pernah suatu ketika Dewi berkata "Aku bertahan di kota ini karena kuliah, kalau sudah selesai lebih baik pulang ke Bandung". Tapi ternyata ketika hari itu telah tiba, Dewi seakan berat meninggalkan kota yang selama ini telah membuatnya jatuh bangun.
Mungkin karena di kota ini ada seseorang yang telah bersemayam di hatinya. Jika harus memilih, tak ada seorangpun yang menginginkan terpisah jarak dengan seseorang yang ia cintai. Begitupun dengan Dewi, hati kecilnya tak menginginkan terpisah dengan seseorang yang selama ini menjadi mentari dalam hidupnya, antara Jakarta-Bandung.
Bayang-bayangmu dibatas senja, matahari membakar rinduku.
Lamunan Dewi berkelana mengarungi lintasan mimpi menembus lorong demi lorong alam bawah sadarnya. Seketika ia terhenyak ketika mentari melintas di hadapannya, mentari terlihat gelisah bagai ranting yang tertiup angin bergoyang tanpa arah. Dewi menatap nanar jingganya sang mentari "Ada apa gerangan?". Mentari hanya terdiam tapi tersirat pesan bahwa mentari pun merindukan seseorang.
Dewi bertanya pada rona jingga "Adakah cinta membahana di hati mentari?". Tanpa pikir panjang ia menjawab "Ya", sesaat kemudian pipi Dewi merona. Selama ini benih yang tersemai di hati Dewi tak pernah salah.
Sore itu sinar mentari menyorot wajah Dewi, ia sedang menanti sebuah bus untuk pulang ke kota kelahirannya, meninggalkan kota tempat ia mencari rezeki. Ada rasa haru menyelimuti hati Dewi, pernah suatu ketika Dewi berkata "Aku bertahan di kota ini karena kuliah, kalau sudah selesai lebih baik pulang ke Bandung". Tapi ternyata ketika hari itu telah tiba, Dewi seakan berat meninggalkan kota yang selama ini telah membuatnya jatuh bangun.
Mungkin karena di kota ini ada seseorang yang telah bersemayam di hatinya. Jika harus memilih, tak ada seorangpun yang menginginkan terpisah jarak dengan seseorang yang ia cintai. Begitupun dengan Dewi, hati kecilnya tak menginginkan terpisah dengan seseorang yang selama ini menjadi mentari dalam hidupnya, antara Jakarta-Bandung.
Bayang-bayangmu dibatas senja, matahari membakar rinduku.
Lamunan Dewi berkelana mengarungi lintasan mimpi menembus lorong demi lorong alam bawah sadarnya. Seketika ia terhenyak ketika mentari melintas di hadapannya, mentari terlihat gelisah bagai ranting yang tertiup angin bergoyang tanpa arah. Dewi menatap nanar jingganya sang mentari "Ada apa gerangan?". Mentari hanya terdiam tapi tersirat pesan bahwa mentari pun merindukan seseorang.
Dewi bertanya pada rona jingga "Adakah cinta membahana di hati mentari?". Tanpa pikir panjang ia menjawab "Ya", sesaat kemudian pipi Dewi merona. Selama ini benih yang tersemai di hati Dewi tak pernah salah.
Langganan:
Postingan (Atom)

