Kemilau di batas senja menatap pada seorang gadis yang sedang menanti sebuah pernyataan, seakan mengerti risau yang sedang mendera sekeping hatinya.
Sore ini aku kembali terpaku oleh pesona senja, aku bersama sepotong harapan yang memasung perasaan ini dalam gundah yang berkepanjangan, mencoba mencari celah untuk ungkap getar ini meski masih tertahan dalam ragu, ingin sekali semua rasa ini terlerai dalam senyum kelegaan. Ah, aku masih saja mengharapkannya.
Bersambung...
Rabu, 29 Februari 2012
Kamis, 29 Desember 2011
Perhiasan Terbaik Dunia
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)
Aku berkaca pada diriku, masih sangat jauh untuk menjadi seperti itu, apalagi dua minggu ini aku telah banyak menghabiskan waktu hanya untuk permainan dan senda gurau. Rabbi, inni dzalamtu nafsi faghfirli. Sedih rasanya ketika kualitas ibadahku semakin hari semakin berkurang. Evaluasi pasca Iedul Fithri 1432 H; Berapa kali aku pergi ke tempat karaoke? Berapa kali aku nonton film di bioskop? Berapa sering aku menyanyikan lagu cinta? Berapa sering aku mendengarkan musik? Berapa kali aku pergi ke Almanar? Berapa kali aku pergi ke Masjid? Berapa sering aku melantunkan ayat suci? Berapa sering aku mendengarkan muratal?
Aku butuh teman seperti Ukhti Ririn yang selalu mengingatkanku, aku butuh teman yang seiring sejalan berada dalam koridor yang benar. Rabbi, aku butuh teman yang akan memegang bila perlu menarik tanganku ketika aku mulai berbelok dari jalan yang lurus. Bukan justeru membiarkan atau bahkan mendorong aku ketika aku mulai menyimpang dari jalanMu. Bukan teman yang menjadi kayu bakar ketika aku bermain api. Aku tidak ingin seperti dulu lagi!!!
Sepertinya dan memang harus aku berbenah diri untuk menjadi lebih baik, tidak ingin rasanya terus tenggelam dalam kesenangan dunia, aku harus berusaha dan terus belajar untuk menjadi perhiasan terbaik dunia. Mulai dari sekarang!!!
http://spiritislam.net/index.php/2012/03/30/perhiasan-terbaik-dunia-untuk-generasi-terbaik-2/
Rabu, 21 Desember 2011
Persimpangan Masa Silam
Dalam benakku
Lama tertanam
Sejuta bayangan dirimu...
Sebaiknya aku memang harus menyelesaikan semua ini, cukup sudah aku tertahan dalam persimpangan masa silam. Aku harus lebih berusaha untuk menghapus bayangan itu, meskipun sulit dan sungguh teramat sulit. Otakku sedang bekerja lebih extra untuk menentukan siapa nama orang yang akan bersanding dengan namaku di kartu undangan. Sekarang kita kesampingan masalah perasaanku pada seseorang yang membuat
aku tertahan di persimpangan, karena aku harus segera menentukan jalan
mana yang akan aku tempuh. Dan aku sangat membutuhkan Allah untuk menentukan pilihan ini.
Hari ini badan terasa remuk redam setelah dua hari kemarin berturut-turut pulang larut malam hanya untuk permainan dan senda gurau, lebih tepatnya mencoba mencari rasa meskipun ternyata aku tidak menemukannya, kemudian semalam aku ke Cibubur untuk fitting baju acara pernikahan temanku. Lelah, semoga masih ada kekuatan untuk nanti malam belajar di Almanar, semoga!
Apakah aku masih bisa jatuh cinta pada orang lain? Itulah yang sedang aku cari. Hampir tiga tahun aku mengenalnya, secara face cukup dan secara finansial pun seperti itu. Tapi entah mengapa hatiku masih saja beku, aku mencoba memaklumi tentang masa lalunya yang akrab dengan dunia malam, setiap manusia berhak berubah apalagi ke arah yang lebih baik.
Aku salut atas kejujurannya untuk bercerita tentang kehidupannya di masa lalu yang sering keluar malam untuk menghabiskan waktu di dunia gemerlap. Aku jadi teringat tentang cerita temanku, dia seorang akhwat dan ketika itu terlibat perbincangan dengan seorang ikhwan, temanku berkata: "Aku berharap mempunyai seorang suami yang bisa menjadi imam dan membimbing hidupku" kemudian ikhwan itu berkata "Seandainya Allah memberikan kamu pasangan hidup yang justeru sebaliknya, kamu diposisikan untuk membimbingnya". Mungkin dia bukan lelaki yang akan memberi jawaban dari semua pertanyaanku mengenai ilmu agama, atau bahkan aku yang akan lebih banyak mentransfer ilmu agama yang sudah aku tahu, meskipun harapanku memiliki suami yang bisa menjadi tempat bertanya dan berbagi ilmu agama tapi jika kehendak Allah tidak sama dengan harapanku berarti itulah yang terbaik untukku.
“Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216).
Aku mencoba memahami semua kejujuran yang ia katakan, aku berusaha memberikan respon yang bijak, aku tidak ingin secara sengaja menyakiti perasaannya atas komentarku. Begitu juga jika pada akhirnya aku tidak menjatuhkan pilihan padanya, dan semoga dia mendapatkan pasangan hidup yang sesuai dengan apa yang ia harapkan. Karena jika aku memutuskan untuk memilihnya, rintangan yang menghadang cukup besar, karena ternyata keluargaku kurang setuju jika aku menikah dengan orang yang mempunyai latar belakang suku yang sama dengan ayahku.
Ketika ia bercerita tentang kehidupannya yang kelam, namun kemudian sadar bahwa kehidupan seperti itu tidak bagus dan aku berkata: bersyukur kalau sadar kehidupan seperti itu tidak bagus. Kemudian mengenai ibadah shalat lima waktunya yang baru full semenjak lebaran kemarin, dan aku berkata: iya sebuah proses. Aku berusaha untuk berkomentar bijak, seperti ketika aku bercerita pada Ustadz Ahmad mengenai aku yang pernah terlibat hubungan kasih dengan seseorang, yang sebenarnya hubungan itu tidak ada dalam Islam dan kemudian Ustadz berkata: bersyukur Allah sudah mengingatkan anti.
Yang sedang berkecamuk di pikiranku saat ini adalah, apakah aku akan meneruskan cerita ini atau memotongnya saja seperti yang aku lakukan pada beberapa orang walaupun pada akhirnya mereka kecewa dan berkomentar yang cukup mengiris hati. Aku sebenarnya tidak ingin memberi harapan kosong pada orang yang tidak aku suka. Meskipun sepupuku pernah berkata: ayo Teh nyanyi lagu gantung, Teh Seli kan sering menggantung perasaan orang. Dengan simplenya aku berkata: sekuat-kuat mereka bertahan.
Sepulang dari kantor aku langsung memanfaatkan waktu untuk tidur sebelum berangkat ke Almanar, sejam kemudian aku bangun dan bersiap-siap berangkat ke Almanar meskipun masih dalam keadaan mengantuk tapi aku harus pergi. Setelah selesai belajar aku bergegas pulang, rasanya badan ini terasa lemas, sesampainya di kostan udara terasa panas dan kepalaku terasa sakit.
Kata temanku "Kenapa Sel, kayak yang capek banget"
"Sakit kepala" jawabku dan kemudian sepupuku memberi obat sakit kepala.
"Hang" mengantuk tapi cukup sulit mata ini dipejamkan, kasur sudah basah oleh keringat, badan terasa sakit dan pegal, efek dari pulang larut malam. Ya Allah, ampuni hambaMu yang telah lalai dan membuang waktu untuk kesenangan dunia. Rabbi, inni dzalamtu nafsi faghfirli.
Kamis, 01 Desember 2011
Unit Galau Darurat
"Mati rasa" sepertinya ada yang konslet di hatiku ini, setiap kali aku mencoba untuk membuka hati pada orang yang menyukaiku, selalu saja tidak menemukan magnet yang membuat aku untuk tertarik padanya, bahkan pada orang yang sekitar 3 tahun aku telah mengenalnya. Aku mencoba untuk mencari taste itu tapi usahaku belum berhasil, entah karena aku kurang berusaha untuk menelusuri celah agar aku menemukan rasa itu. Atau aku masih terjebak di Unit Galau Darurat karena hatiku masih menyimpan memori tentang seseorang yang membuat aku kesulitan untuk menghapusnya.
Sebenarnya usaha mereka sudah cukup untuk membuat hatiku tergugah, mulai dari perhatian bahkan ungkapan hati mereka yang mungkin tulus dan itu cukup untuk membuat hati berbunga, seharusnya! Tapi mengapa semua terasa datar saja? Tidak ada getaran yang mengalir di hatiku. Apa hatiku sudah benar-benar mati rasa? Lebih parahnya lagi, aku merasa lelah dengan semua perhatian atau ungkapan hati mereka, yang akhirnya aku memilih untuk mengabaikan itu semua. Berbeda dengan orang yang membuat aku lama berada di Unit Galau Darurat, itu karena aku telah menyukainya, cukup salut untuknya karena "Nobody ever made me feel this way". Jika aku bertemu dengannya, jantungku terasa berdegup lebih kencang, membuat aku salah tingkah, atau mungkin wajahku berubah jadi merah, aku jadi khawatir orang itu bisa mendengar degup jantungku.
So, what I must stick with him? Tapi aku mungkin tak akan mengungkapkan perasaanku padanya, cukup aku dan teman-teman terbaikku yang tahu tentang ini. Meskipun aku merasa lelah ketika dihadapkan pada suatu keadaan
yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani. Lelah ketika harus
berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal. Lelah
ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun. Lelah
ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi. Lelah ketika
pikiran menjadi galau oleh harapan yang tidak pasti. Lelah untuk mencari suatu
alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan
"Apa kabar?". Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment
kebersamaan. Lelah karena menahan keinginan untuk melihatnya.
Dan sampai saat ini aku masih terdiam! Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi. Diam untuk memberi kesempatan otak
kembali dalam keadaan normal. Diam untuk mencari jalan keluar. Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya "Apakah aku
cukup pantas?". Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang
harus dipendam. Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah.
Dan dalam diam itu pula, aku menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap
mengalir.
Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang aku
rasakan, lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola
pikir yang lebih logis. Galau ketika semua bahasa tubuh
seperti digerakkan untuk bertindak bodoh. Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat
orang bodoh? Tentu tidak. Namun itu pula yang aku rasakan selama satu tahun lebih. Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat
pandangan. Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan
sedikit terbuka. Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang
menyakitkan. Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup. Galau
ketika berpikir mungkin segalanya tidak akan terjadi, tapi kemudian kembali berharap pada Yang Maha Berkehendak, Jika Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata "Jadilah!" Maka jadilah.
Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang aku rasakan selama ini,
ada rasa syukur pada Sang Maha Rahim atas apa yang aku alami. Syukur
ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang. Syukur ketika
berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam. Syukur untuk
sebuah pikiran abnormal namun tetap berusaha untuk bertingkah normal. Syukur ketika rasa galau
merajalela tak terbendung. Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang
menyapa. Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan "Aku
mencintaimu". Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari
mencintai. Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam
sebaris ucapan "Aku tidak punya hak untuk cemburu".
Akhirnya bagiku, keputusan untuk mencintai
melalui do'a menjadi pilihan yang paling pantas. Setidaknya, mencintai
secara tulus melalui do'a mungkin akan menjadi
lebih bermakna. Dalam do'a, akhirnya semua aku kembalikan
kepada Yang Maha Mengabulkan. Bahwa mencintai seseorang itu butuh pengorbanan. Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah. Bahwa aku hanyalah manusia biasa. Bahwa aku tidak bisa berlaku pintar sepanjang
waktu. Bahwa aku juga punya kebodohan yang kadang susah untuk
diterima akal sehat. Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, "Aku berani
mencintai". Bahwa aku bersedia membayar harga dari mencintai seseorang. Bahwa aku bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa. Bahwa aku mampu untuk
tetap hidup meski rasa perih terus menjalar. Bahwa "Aku belum mati rasa" karena aku masih bisa merasakan efek yang ditimbulkan oleh cinta.
Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah aku terima, berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN. Sebuah zona yang terbentuk karena aku merasa tidak berdaya. Dimana aku merasa belum memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin. Mencintai dalam kepasrahan, meskipun masih berharap dan sangat sulit bagiku untuk tidak mengingatnya. Dan hingga hari ini, aku masih mencintainya. Aku sadar hal itu akan memberi rasa perih namun bagiku lebih susah untuk tidak mencintainya. Rabb, aku mencintainya namun jangan Engkau biarkan rasa cintaku padanya melebihi rasa cintaku padaMu, jika memang dia adalah jodohku maka halalkan cintaku, namun jika bukan karuniakan kepadaku kepasrahan atas kehendakMu bahwa Engkau telah menyiapkan seseorang yang terbaik untukku.
Rabu, 16 November 2011
Sabarlah Wahai Jiwa
Rona rembulan tersenyum simpul membawa damai pada gersangnya
gurun-gurun jiwa, tikaman dingin semakin menusuk. Mataku menatap setiap sudut
waktu yang berkelebat hitam. Aku masih harus melangkah menyusuri jalan ini, meskipun
lelah hati menggapai bayang yang kian memudar, membawa diri tertatih pahami
jiwa yang letih.
Sesaat kemudian merinaikan air mata di kelamnya malam...
"Galau" bisikku pada malam menjelang shubuh, tengadahku kemudian pada semesta yang masih memperlihatkan warna kelamnya, warna yang tergelayut pada pekatnya malam. Kapan? Tanyaku ringkih pada selasar waktu, tidak ada reaksi. Terjebak dalam kebisuan dan aku kembali menatap semesta yang merajuk pada kaki langit.
Sesaat kemudian merinaikan air mata di kelamnya malam...
"Galau" bisikku pada malam menjelang shubuh, tengadahku kemudian pada semesta yang masih memperlihatkan warna kelamnya, warna yang tergelayut pada pekatnya malam. Kapan? Tanyaku ringkih pada selasar waktu, tidak ada reaksi. Terjebak dalam kebisuan dan aku kembali menatap semesta yang merajuk pada kaki langit.
Dengarlah hembusan angin yang merintih sekarat, menghapus setiap sketsa kepedihan meskipun tak semudah air meluruhkan tinta. Semua buat aku gamang menapaki hari yang makin garang, bayangan itu kembali mengukir perih, aku terlumat gurat penat.
"Rabb, aku letih" tapi aku harus terus berjalan meskipun debu melukai mataku. Aku tidak akan kalah dan tidak akan menyerah! Masih ada secercah harapan... Sabarlah wahai jiwa!
"Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya, bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa."
Kamis, 10 November 2011
Mengajak Dengan Bijak
"Tawaashau bil haq wa tawaashau bish-shabr"
Potongan ayat tersebut mulai eksis dalam kehidupanku sekitar tahun 2008, ketika aku berselisih paham dengan salah satu temanku, kemudian temanku yang lain menasehatiku dengan memberikan ayat tersebut. Beberapa bulan yang lalu ketika aku pulang ke Bandung, aku menemukan buku "Melukis Cinta" yang aku beli sekitar tahun 2007, sebelum aku berangkat ke Kota Tasikmalaya. Aku baca kembali buku yang isinya menceritakan para aktivis dakwah dalam meraih cinta sejatinya.
"Jika ada pesan yang ingin disampaikan, tunggulah sampai ada saat yang tepat untuk bicara. Jika ada nasihat yang ingin diutarakan, cermatilah kapan kebenaran itu sebaiknya diungkapkan. Ketika Allah menyuruh kita untuk saling menasehati dalam kebenaran, bersama itu pula Allah menyuruh kita saling menasehati dengan kesabaran".
Beberapa hari setelah aku membaca buku tersebut, ketika aku dan teman-temanku kembali belajar bahasa arab di Almanar setelah libur lebaran, sangat kebetulan sekali Ustadz Ahmad (Baarakallaah Yaa Ustadz) membahas tentang surat Al-Asr. Sering sekali ketika ada sesuatu yang berkecamuk dipikiranku, Allah selalu memberi jawaban dan itu seperti mata rantai. Di akhir pekan itu aku mendapat banyak ilmu dari beliau termasuk Fiqih Dakwah.
Seperti biasa aku search di google tentang hal tersebut, "Cara Cerdas Nabi Mengoreksi Kesalahan Orang Lain", itulah buku yang aku dapatkan. Santun dalam menuntun. Penuh hikmah dalam berdakwah. Bijak ketika mengajak kepada yang hak. Mengoreksi tanpa membuat orang sakit hati, malah menerimanya dengan senang hati. Banyak para sahabat tergetar ketika beliau meluruskan mereka ke jalan yang benar. Itulah Nabi Muhammad. Segala ucapan dan perbuatannya selalu dipandu oleh wahyu, begitu pula cara beliau menegur dan mengoreksi kesalahan seseorang.
Kata "dakwah" dari segi bahasa berarti "memanggil, menyeru, atau mengajak", persepsi yang aku dapatkan dari kata dakwah yaitu; merangkul bukan menyeret. Kalau kita ingin sukses mengajak seseorang, berarti kita mesti cerdas memahami watak dan perilaku orang-orang yang akan kita ajak, sehingga kita bisa memilih dan menerapkan metode yang paling efektif. Karena setiap manusia itu memiliki karakter yang berbeda.
Ketika kita ingin melakukan "Ishlah" terhadap diri seseorang, hendaklah kita menyampaikannya dengan bijak. Aku juga termasuk orang yang seringkali menyampaikan sesuatu dengan tidak bijak yang terkadang membuat tali silaturahmi dengan orang tersebut jadi putus, padahal sesama muslim itu bersaudara.
Kalau kata Ukht Ririn "Jangan karena kita sudah tahu tentang suatu ilmu, lantas kita sombong akan ilmu tersebut dan merasa diri paling benar". Di atas langit masih ada langit.
Potongan ayat tersebut mulai eksis dalam kehidupanku sekitar tahun 2008, ketika aku berselisih paham dengan salah satu temanku, kemudian temanku yang lain menasehatiku dengan memberikan ayat tersebut. Beberapa bulan yang lalu ketika aku pulang ke Bandung, aku menemukan buku "Melukis Cinta" yang aku beli sekitar tahun 2007, sebelum aku berangkat ke Kota Tasikmalaya. Aku baca kembali buku yang isinya menceritakan para aktivis dakwah dalam meraih cinta sejatinya.
"Jika ada pesan yang ingin disampaikan, tunggulah sampai ada saat yang tepat untuk bicara. Jika ada nasihat yang ingin diutarakan, cermatilah kapan kebenaran itu sebaiknya diungkapkan. Ketika Allah menyuruh kita untuk saling menasehati dalam kebenaran, bersama itu pula Allah menyuruh kita saling menasehati dengan kesabaran".
Beberapa hari setelah aku membaca buku tersebut, ketika aku dan teman-temanku kembali belajar bahasa arab di Almanar setelah libur lebaran, sangat kebetulan sekali Ustadz Ahmad (Baarakallaah Yaa Ustadz) membahas tentang surat Al-Asr. Sering sekali ketika ada sesuatu yang berkecamuk dipikiranku, Allah selalu memberi jawaban dan itu seperti mata rantai. Di akhir pekan itu aku mendapat banyak ilmu dari beliau termasuk Fiqih Dakwah.
Seperti biasa aku search di google tentang hal tersebut, "Cara Cerdas Nabi Mengoreksi Kesalahan Orang Lain", itulah buku yang aku dapatkan. Santun dalam menuntun. Penuh hikmah dalam berdakwah. Bijak ketika mengajak kepada yang hak. Mengoreksi tanpa membuat orang sakit hati, malah menerimanya dengan senang hati. Banyak para sahabat tergetar ketika beliau meluruskan mereka ke jalan yang benar. Itulah Nabi Muhammad. Segala ucapan dan perbuatannya selalu dipandu oleh wahyu, begitu pula cara beliau menegur dan mengoreksi kesalahan seseorang.
Kata "dakwah" dari segi bahasa berarti "memanggil, menyeru, atau mengajak", persepsi yang aku dapatkan dari kata dakwah yaitu; merangkul bukan menyeret. Kalau kita ingin sukses mengajak seseorang, berarti kita mesti cerdas memahami watak dan perilaku orang-orang yang akan kita ajak, sehingga kita bisa memilih dan menerapkan metode yang paling efektif. Karena setiap manusia itu memiliki karakter yang berbeda.
Ketika kita ingin melakukan "Ishlah" terhadap diri seseorang, hendaklah kita menyampaikannya dengan bijak. Aku juga termasuk orang yang seringkali menyampaikan sesuatu dengan tidak bijak yang terkadang membuat tali silaturahmi dengan orang tersebut jadi putus, padahal sesama muslim itu bersaudara.
Kalau kata Ukht Ririn "Jangan karena kita sudah tahu tentang suatu ilmu, lantas kita sombong akan ilmu tersebut dan merasa diri paling benar". Di atas langit masih ada langit.
Rabu, 02 November 2011
Meraih Cinta Ilahi
Ada pesan yang masuk di hapeku, sms dari sepupuku yang menyuruh aku untuk pulang ke Lampung pada hari pernikahan tanteku, tidak aku balas dan beberapa saat kemudian "Kriiing... Kriing..." suara hapeku, tidak aku angkat. Galau sedang melanda jiwa "Aku kecewa pada ayahku", aku buka media di hapeku dan aku pilih music, saat seperti ini sebaiknya aku mendengarkan ayat suci yang dilantunkan Musyari Rasyid, sampai di surat At-Takwir ayat 26, hatiku terusik ketika Allah bertanya "Fa aina tadzhabun?". Aku pertama kali mendapatkan penggalan ayat tersebut di buku "Memaknai Kematian" yang aku beli sekitar tahun 2008.
Kemudian aku search di google tentang penggalan ayat tersebut, kebetulan pekerjaan kantor tidak terlalu banyak, aku dihantarkan pada buku berjudul "Meraih Cinta Ilahi" dan ternyata pengarang buku tersebut sama. Di kata pengantar diceritakan tentang pengajian yang diadakan setiap hari ahad di Masjid Al-Munawwarah, pengajian tersebut di buka untuk umum dan murid SMA Plus Muthahhari setiap minggunya mendapat kewajiban untuk menghadiri acara itu secara bergiliran (aku jadi teringat masa-masa di SMA dulu).
"Hendak ke mana kalian pergi?" Sejenak merenungi perjalanan hidup yang telah aku lewati, tersadar setelah jauh melangkah. Wahai Tuhan seluruh alam semesta, betapa aku telah banyak menghabiskan waktuku dengan kesenangan dunia, padahal Engkaulah tempat kembali. Nabi Ibrahim berkata "Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku" dalam surat Ash-Shaffat ayat 99. Ketika itu Nabi Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk dapat menyembah Allah dan berdakwah. Seperti Nabi Ibrahim, seorang
mukmin adalah ia yang telah mengambil keputusan bahwa perjalanannya
adalah untuk menuju Tuhan.
Pertanyaan "Fa aina tadzhabun" juga dikenal dalam istilah Latin yang
menyebutnya, "Quo Vadis?" Istilah Latin itu ditujukkan
untuk orang yang menyimpang atau aneh, demikian pula
dalam Al-Quran. Allah bertanya kepada
orang-orang yang jalannya melenceng yaitu kepada kaum kafir karena mereka
mengingkari Al-Qur'an, padahal sudah diterangkan bahwa Al-Qur'an itu
benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya berisi pelajaran dan
petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus. Maka ke manakah kalian akan pergi?
Apa sebenarnya tujuan akhir dari perjalanan hidup ini? Apakah itu berupa karir, kedudukan, kekayaan, atau kemasyhuran. Al-Quran senantiasa mengingatkan kita untuk mulai berangkat menuju Tuhan. Allah berfirman: Oleh karena itu, bersegeralah berlari kembali menuju Allah. (QS. Al-Dzariyat : 50). Allah tidak hanya menyuruh kita untuk berjalan, bahkan memerintahkan kita berlari kepadaNya. Hidup terlalu singkat jika kita pergi menuju Tuhan dengan cara berjalan, kita harus berlari sebelum waktu kita di dunia habis dan berakhir, sementara aku masih saja merangkak karena terlena dengan pesona dunia.
Nabi pernah bertanya kepada para sahabatnya, "Bagaimana keadaan kalian, seandainya di antara kalian suatu saat berada di padang pasir membawa perbekalan dan unta, lalu kalian tertidur; dan ketika bangun, kalian mendapati unta dan perbekalanmu hilang?" Para sahabat menjawab, "Tentu cemas sekali, ya Rasulallah!" Rasulullah melanjutkan, "Di saat kalian cemas, tiba-tiba kalian lihat unta itu kembali dari tempat jauh dan menghampiri kalian dengan membawa seluruh perbekalanmu. Apa perasaan kalian?" Para sahabat kembali menjawab, "Tentu kami akan bahagia sekali." Nabi yang mulia lalu berkata, "Allah akan lebih bahagia lagi melihat hambaNya yang datang kepadaNya daripada kebahagiaan seseorang yang kehilangan unta kemudian ia melihat untanya datang kembali kepadanya."
Hadits riwayat Ahmad dan Al-Thabrani berbunyi, "Barangsiapa yang mendekati Allah sesiku, Dia akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekati Allah sambil berjalan, Allah akan menyambutnya sambil berlari." Balasan dari Allah selalu lebih hebat dari apa yang kita lakukan.
Dalam surat Luqman ayat 15, Allah juga menyuruh kita untuk mengikuti jalan orang yang kembali kepadaNya, jadi alangkah baiknya jika kita selalu berkumpul dengan orang-orang yang senantiasa berada di jalan menuju Dia. Dan perjalanan menuju Tuhan harus dilakukan dengan menyucikan diri dan membersihkan hati. Hati kita sering terkotori dengan dosa yang kita lakukan, dosa-dosa itu menghijab kita dari Tuhan. Mereka yang mampu berjumpa dengan Tuhan adalah mereka yang membawa hati yang bersih; bukan yang membawa harta dan anak-anaknya. Ya Allah, hamba adalah manusia yang bergelimang dosa, namun ingin kembali kepadaMu dalam keadaan fitri.
Dalam bahasa Arab, kata tazakka yang berarti menyucikan diri, juga berarti "tumbuh". Oleh karena itu, di dalam Islam, pertumbuhan seseorang diukur dari tingkat kesucian dirinya. Semakin suci dan bersih seseorang, semakin tinggi pulalah derajatnya. Psikologi Humanistik juga mengenal hal ini, Abraham Maslow menyebut puncak pertumbuhan manusia adalah pertumbuhan kepribadiannya, ia menyebutnya dengan aktualisasi diri atau self actualization.
Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah kepada Allah dan RasulNya, lalu kematian menjemputnya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah... (QS. An-Nisa : 100).
Sebagian ulama menafsirkan kata "rumah" dalam ayat itu sebagai diri, egoisme, atau keakuan kita. Kita selalu berpikir akan kepentingan pribadi semata. Bila kita beribadah, itu pun dilakukan dalam konteks kepentingan diri kita. Kita bersedekah untuk menolak bencana demi keselamatan diri kita. Kita menunaikan shalat agar terhindar dari neraka dan mengharapkan surga. Kita sering beribadah dengan ibadah para pedagang, menjual ibadah kita untuk ditukar dengan pahala.
Hal ini berbeda dengan para ulama, mereka berupaya keluar dari "rumah" mereka untuk beribadah bukan karena mengharap pahala tetapi karena rasa terima kasih kepadaNya. Mereka merasa berhutang budi atas segala anugerah Allah, itulah ibadah yang sesungguhnya. Hubungan mukmin dengan Tuhannya bukanlah hubungan bisnis, melainkan hubungan cinta. Al-Quran menyebut orang yang beribadah kepada Tuhan tanpa meninggalkan dirinya karena terlalu cinta akan dirinya, sebagai orang yang telah mengambil Tuhan selain Allah. Ia mencintai dirinya lebih dari ia mencintai Tuhan.
Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sama seperti mereka mencintai Allah. Sementara orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah. (QS. Al-Baqarah : 165).
Apa sebenarnya tujuan akhir dari perjalanan hidup ini? Apakah itu berupa karir, kedudukan, kekayaan, atau kemasyhuran. Al-Quran senantiasa mengingatkan kita untuk mulai berangkat menuju Tuhan. Allah berfirman: Oleh karena itu, bersegeralah berlari kembali menuju Allah. (QS. Al-Dzariyat : 50). Allah tidak hanya menyuruh kita untuk berjalan, bahkan memerintahkan kita berlari kepadaNya. Hidup terlalu singkat jika kita pergi menuju Tuhan dengan cara berjalan, kita harus berlari sebelum waktu kita di dunia habis dan berakhir, sementara aku masih saja merangkak karena terlena dengan pesona dunia.
Nabi pernah bertanya kepada para sahabatnya, "Bagaimana keadaan kalian, seandainya di antara kalian suatu saat berada di padang pasir membawa perbekalan dan unta, lalu kalian tertidur; dan ketika bangun, kalian mendapati unta dan perbekalanmu hilang?" Para sahabat menjawab, "Tentu cemas sekali, ya Rasulallah!" Rasulullah melanjutkan, "Di saat kalian cemas, tiba-tiba kalian lihat unta itu kembali dari tempat jauh dan menghampiri kalian dengan membawa seluruh perbekalanmu. Apa perasaan kalian?" Para sahabat kembali menjawab, "Tentu kami akan bahagia sekali." Nabi yang mulia lalu berkata, "Allah akan lebih bahagia lagi melihat hambaNya yang datang kepadaNya daripada kebahagiaan seseorang yang kehilangan unta kemudian ia melihat untanya datang kembali kepadanya."
Hadits riwayat Ahmad dan Al-Thabrani berbunyi, "Barangsiapa yang mendekati Allah sesiku, Dia akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekati Allah sambil berjalan, Allah akan menyambutnya sambil berlari." Balasan dari Allah selalu lebih hebat dari apa yang kita lakukan.
Dalam surat Luqman ayat 15, Allah juga menyuruh kita untuk mengikuti jalan orang yang kembali kepadaNya, jadi alangkah baiknya jika kita selalu berkumpul dengan orang-orang yang senantiasa berada di jalan menuju Dia. Dan perjalanan menuju Tuhan harus dilakukan dengan menyucikan diri dan membersihkan hati. Hati kita sering terkotori dengan dosa yang kita lakukan, dosa-dosa itu menghijab kita dari Tuhan. Mereka yang mampu berjumpa dengan Tuhan adalah mereka yang membawa hati yang bersih; bukan yang membawa harta dan anak-anaknya. Ya Allah, hamba adalah manusia yang bergelimang dosa, namun ingin kembali kepadaMu dalam keadaan fitri.
Dalam bahasa Arab, kata tazakka yang berarti menyucikan diri, juga berarti "tumbuh". Oleh karena itu, di dalam Islam, pertumbuhan seseorang diukur dari tingkat kesucian dirinya. Semakin suci dan bersih seseorang, semakin tinggi pulalah derajatnya. Psikologi Humanistik juga mengenal hal ini, Abraham Maslow menyebut puncak pertumbuhan manusia adalah pertumbuhan kepribadiannya, ia menyebutnya dengan aktualisasi diri atau self actualization.
Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah kepada Allah dan RasulNya, lalu kematian menjemputnya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah... (QS. An-Nisa : 100).
Sebagian ulama menafsirkan kata "rumah" dalam ayat itu sebagai diri, egoisme, atau keakuan kita. Kita selalu berpikir akan kepentingan pribadi semata. Bila kita beribadah, itu pun dilakukan dalam konteks kepentingan diri kita. Kita bersedekah untuk menolak bencana demi keselamatan diri kita. Kita menunaikan shalat agar terhindar dari neraka dan mengharapkan surga. Kita sering beribadah dengan ibadah para pedagang, menjual ibadah kita untuk ditukar dengan pahala.
Hal ini berbeda dengan para ulama, mereka berupaya keluar dari "rumah" mereka untuk beribadah bukan karena mengharap pahala tetapi karena rasa terima kasih kepadaNya. Mereka merasa berhutang budi atas segala anugerah Allah, itulah ibadah yang sesungguhnya. Hubungan mukmin dengan Tuhannya bukanlah hubungan bisnis, melainkan hubungan cinta. Al-Quran menyebut orang yang beribadah kepada Tuhan tanpa meninggalkan dirinya karena terlalu cinta akan dirinya, sebagai orang yang telah mengambil Tuhan selain Allah. Ia mencintai dirinya lebih dari ia mencintai Tuhan.
Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sama seperti mereka mencintai Allah. Sementara orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah. (QS. Al-Baqarah : 165).
Langganan:
Postingan (Atom)


