Kamis, 28 Agustus 2014

Apa Kabar Mentari?

"Apa kabar Mentari? Aku menatapmu di setiap gerik mata." sapa Sang Dewi di sudut pagi berselimut embun.

Ada rasa yang membumbung di relung hati ketika Sang Dewi menikmati hangatnya sentuhan Sang Mentari, berkas-berkas sinarnya yang mengintip malu-malu dari balik dedaunan rimbun menjalar ke seluruh raga Sang Dewi.

"Aku selalu merindukanmu, mengatup sepi bersama lirih senandung pagi hanya untuk melihatmu"

"Aku memugar rasa di musim semi bersama bulir embun menyemai hijau daun"

Angin semilir diantara bias cahaya Mentari, hingga meliuk lembut helai demi helai hati Sang Dewi. Senyumnya melengkung bak bulan sabit.

"Ada rindu yang tertepi di sini"
 
Ini tentang cerita di musim semi, kala rasa memugar di awal hari. Detik demi detik menghimpun mimpi melecut harap di reranting hati yang lirih.
 
Pada warna pagi yang tak lagi kelam, karena Mentari lembut menerpa ujung dedaunan. Dalam damai Dewi mengulum senyuman, sebab semalam risau telah tertanggal bersama sang fajar di timur asa merekah.

"Aku ingin selalu menyemai  di atas jejak tentang cinta sederhana milik kita, berhulu dan bermuara, mengalirkan daya pada jarak yang hendak tertempuh, berharap waktu tak membuat debu, dan kita setia merawat janji dan rindu"

Kamis, 30 Januari 2014

Sehangat Senyum Mentari

Kemilau mentari merekah dengan sinar yang cerah, wangi mawar lenyapkan resah merebak dari kelopak merah "Ku pinang kau dengan Bismillah" ucap Sang Mentari.

Sang Dewi bersenda sunyi di langit pagi melebur badai di lumbung hati. Kuncup bunga mawar bermekaran menghiasi hati.  Ia mengulum senyum ceriakan hari, merah merona di paras berseri.

11 Januari, hari itu memudarkan rahasia-rahasia di tempayan kalbu Sang Dewi. "Kau dan aku hanyalah selembar cerita, kau yang merangkai bait demi baitnya, lalu kusam jemariku menarik pena aksara pula tanda baca."

"Mungkin terlalu sederhana aku mencintaimu, namun aku berharap senyum Mentari tak pernah mengkerut dan kidung peri cahaya tak menjadi petikkan sumbang kecapi suri." Ucap Sang Dewi

Aku berharap kita duduk berdua di atas dipan-dipan suka, duka menghitung canda perkutut dan sendu keledai. Mengetuk waktu, mengurai benang-benang kusut sembari menunggu kau atau diriku yang terlebih dulu menaiki kereta hijau bisu.

Selasa, 08 Oktober 2013

Mentari Bulan Oktober

"Kerlingan matamu dan sentuhan hangat" Mentari pagi menyapa Sang Dewi.

"Berbahagialah bagi orang yang cerdas dalam memanfaatkan sisa umurnya hanya untuk mendapatkan cinta dari yang menciptakan cinta dan tidak pernah putus asa dalam setiap hidupnya." ucap Mentari pada Sang Dewi.

Minggu, 22 September 2013

Hangat Mentari Pagi

Aku menikmati tetes embun pagi, sebuah kesejukkan yang didapat dari bulir-bulir air di atas pucuk dedaunan yang mengawali pagi dengan nafas kehidupan. "Terjatuh aku dalam keindahan penantian".

Suara riuh gemericik mengajarkan pada rasa syukur setiap harinya ketika mata tak lagi terpejam karena lelap. "Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya?"

Pagi ini mentari besinar rekah, memanjakan mata oleh pernik keemasannya. Mestinya kau bersamaku melakukan ziarah hatiku, menapaki bukit matahari menelusuri rimba gelisahku. Tapi kau tak menyapa pagi ini, tak seperti hangat mentari pagi.

"Terucap keraguan hati yang bimbang yang terhalang kepastian cinta."

Ada saatnya aku diam dan menyentuh sepi karena tarian riuh kata tak memberiku ruang untuk sekedar bernyanyi dan biarkan suara hati menggelagayut kembali jemari tangan.

"Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi." 
 
Aku ambil kayuh dan mendayung pagi jelajahi samudera hari dan biarkan bulir keringat membasahi. Sejenak melepaskan senyum di pipi sambut mentari yang tiada berhenti berbagi cahaya warna warni karena mendung dan gemuruh yang telah berlalu.  

Aku telah menyimpan rapat kenangan kusam sepeninggal malam, kini pagi melagukan rindu begitu dalam dan menampilkan segala riuh tentang jejak langkah yang terus menjauh. Kenangan membahasakan dirinya dalam luruh dedaunan.
 
Ada saatnya aku pergi dan tak harus memberi kabar karena kereta pagi tak pernah bergeser waktu keberangkatannya menuju matahari. 

Minggu, 11 Agustus 2013

Sajak Untuk Mentari

"Kepadamu pemilik hati yang sempat termiliki, yang hadir sebagai bagian rangkaian takdir, aku menulis ini untukmu"

Dewi ingin menghapus sajak yang selalu ia tulis untuk Mentari. Bukan hanya sebait tapi seluruh, demi hatinya yang kian merapuh.

"Ya Tuhanku, tuangkanlah kesabaran atas diriku, kokohkanlah langkahku"

Luruh kembali airmatanya yang ia janji tak ingin menjatuhkannya lagi. Bukan hanya setitik rintik tapi menggerimis.

"Kau ingat aku pernah tumbuhkan perdu rindu, pada titian jembatan antara jurang, pada bebukit yang meninggi julang, hanya biar aku tahu ada jalan menujumu" tulis Sang Dewi. 

Andai Dewi mampu menumpahkan seluruh airmatanya lalu ia reguk hingga mabuk agar dahaga kerinduan itu terpuaskan.

Tapi kemarau panjang itu gersang, membunuh padang-padang ilalang, dan kerinduan itu mati ditelan musim berganti, terbakar Mentari yang terlampau terik.

***
Seharusnya aku tak menulis apa pun lagi untukmu.  Karena tiada kata yang sanggup melukiskan nganga luka.

Mentari Menorehkan Luka

Dalam kesendirian dan terik padang perjalanannya, cinta telah memberikan pelajaran berharga bagi jiwa Sang Dewi untuk bercermin.

"Aku tengah belajar cara lain memahami cinta. Terkadang aku tak mampu berbuat apa-apa atas hatiku." Dewi mulai membaca isi hatinya perlahan-lahan.

"Allah, ampunilah kebodohanku. Aku hanyalah orang yang tengah belajar menjadi pemimpin untuk diriku sendiri.

Pikiran adalah hal paling fana yang Dewi ketahui. Ia seperti membangun sarang dari angin dan hidup di pusaranya yang tak pernah henti mengajarkan kekecewaan.

"Ya Allah, ampunilah kepicikan hatiku yang tak mampu melihat rahasia-Mu." Tapi, siapa bisa mengira besar gelombang di bawah laut? Dewi mulai kecewa pada retorika Mentari yang menghantamnya dalam beku.

Danau di kelopak mata Dewi mulai terlihat, ia beberapa kali menghela napas dengan susah-payah, lantas menyerah pada air mata yang tak kunjung kering. Ia menelungkupkan punggungnya memeluk meja dan tersedu-sedu.

Dewi berharap Mentari merengkuh pundaknya yang laksana kepundan gunung tengah bergolak-golak. Tapi Mentari berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata.

Dewi hanya seorang manusia lagi tengah berusaha membagun keyakinan pada Mentari. Hatinya begitu ringkih, Mentari yang selama ini menyinarinya, menorehkan luka yang begitu dalam. Luka itu begitu terpeta di jiwanya.

"Anggaplah kesalahan itu sesuatu yang wajar melekat pada manusia." Dewi berusaha berdamai dengan hatinya.

Ia tak kuasa untuk tidak menangis. Kelopak itu menjelma sumber air yang terus memuntahkan isinya hingga kuyup seluruh pipi yang kian tirus itu.

Kamis, 18 Juli 2013

Padang Kerinduan Mentari

Dewi tersesat di padang kerinduan pada Mentari yang selama ini senantiasa membalut hatinya dengan kehangatan cahaya.  

"Aku telah lama mencintainya, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku ketika aku melihat matanya" Dewi menunduk ketika matanya beradu pandang dengan Mentari.

Embun berbaris di lembaran daun yang masih berpelukan menanti Mentari menyeruput setiap butirannya. Mentari memberai kabut yang kerap mendaki di wajah sendu. 

"Begitu banyak rerupa keindahan di tiap lekuk lakumu. Warna langitmu jernih serupa laut menampung seribu biru."

Dewi mereguk sejuk di tiap teduh Mentari, dan yang ia tahu, ia selalu memucuk rindu di sebalik dendang Mentari yang mengalun menyalin rindu bersama lagu di kalbu. Ia mencoba melukis pelangi bersama jemarinya.

Bila waktu tiba, ia menunggu jeda menatap ilalang yang meliuk di setiap bayu menyapa, kerling hatinya hanya tertuju pada alamat Mentari, membenam senyap dalam senandung yang pernah Mentari kirimkan.

Dewi mengulum senyuman kala Mentari alirkan sinar ke hulunya, serupa pelangi yang senantiasa ia nanti di senja yang jingga. "Kau indah... Dan terindah di setiap rasa." 

"Kini aku tegak di sini menantimu dalam cinta yang kita punya. Sebab dari sini, mimpiku menjadi daya, jemariku terus menari di lembar-lembar cinta sederhana yang kau bingkiskan."

"Jiwaku segar tanpa gulana meski tanya kerap melebur di udara, aku kian mengenali waktu tak ingin tersudut pada jarak tertempuh, bersamamu menghapus jejak lalu yang kerap mengirim luka tanpa aku harap."

Selasa, 11 Juni 2013

Merengkuh Cinta Mentari

Dewi tak mampu menatap sorot netra matanya ketika Mentari hadir di hadapannya. Ritme jantung Dewi terasa berdegup lebih kencang, ia mencoba untuk mencairkan suasana dengan melempar senyum hangatnya pada Mentari.

"Dan kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah, kau bawa cintaku setinggi angkasa membuat ku merasa sempurna" bisik hati Sang Dewi.

Dewi mulai merasakan intensitas Mentari menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya, kuncup-kuncup bunga pun mulai bermekaran, dan menebarkan wewangian yang semerbak.

Namun sesekali Dewi merasa ada yang salah dengan rasa yang bergejolak dalam dadanya. Terkadang ia tak merasa pantas untuk merengkuh cinta Mentari. Perasaan itu mengoyak batinnya dan meninggalkan secercah harapan.

Namun Dewi tak pernah bisa membunuh rasa cintanya pada Mentari. Rasa cinta yang telah tumbuh ribuan hari silam. Meski terkadang rasa ini menghunus hati Dewi dengan pedang kesedihan. Bagi Sang Dewi, Mentari adalah sosok yang "nyata" saat yang lain menjelma fatamorgana.

Rabu, 13 Maret 2013

Masih Menunggu Mentari

Apa yang terjadi dengan hatiku, ku masih di sini menunggu pagi, seakan letih tak menggangguku, ku masih terjaga menunggu pagi. 

Gejolak rasa yang selama ini silih berganti seperti musim tak memupuskan gairah Sang Dewi untuk tetap menunggu Sang Mentari. Meski letih kerap kali menghantam hati Dewi, namun semua itu seolah angin lalu yang hanya melintas begitu saja.


"Keputusanmu menentukan, harapan dan langkahku ke depan." ucap Mentari ketika Dewi mulai diterjang lagi badai yang menggoncangkan setiap lini hatinya.


Di satu sisi Dewi harus membanting semua retorika yang selama ini berkecamuk. Kemudian mulai berpikir realistis, bukan hanya dengan pertimbangan hati namun dengan pertimbangan akal juga. Satu persatu bayang-bayang silih berganti dalam benaknya. Siapa? 


"Aku mungkin belum yang terbaik, tapi akan berusaha menjadi yang terbaik." kalimat itu semakin meyakinkan Sang Dewi. 


"Percayalah, kasihmu lama tersulam di ruang paling dalam, terlalu jauh tak terselam" senandung bergema di ruang hati Sang Dewi.


Dewi berharap tak akan ada hati yang terluka atas keputusannya untuk tetap menunggu Mentari. Kemudian langit mulai meneteskan butiran mutiaranya membahasi bumi. 


"Suasana sepi begini panahan rindu menusuk hati tak mungkin kau sadari, lantas ku titip puisi kasih agar gelora tidak merintih sengsara pun menyisih." senandung itu kembali terdengar syahdu.


Waktu terus merangkak, tapi masih terlalu abstrak untuk memahami mengapa rintik hujan ini terus menetes, tapi Dewi mencoba menepis rasa rindu pada Mentari. 


"Terima kasih atas segalanya. Kau akan tetap menjadi Mentari di hatiku." pesan untuk Mentari.

Senin, 11 Februari 2013

Ranum Wajah Mentari

Ranum wajah Mentari jelas tergambar saat Dewi menyibak tirai hari. Ia melihat pagi sudah bersolek cantik, bergaun hijau segar dengan berbunga putih merekah. Rona wajah pagi berbinar terbelai Mentari yang mengusap perlahan. Dewi masih tergelayut di pelataran hati Mentari ketika melangkahkan kaki menyambut hari bersama hembusan angin yang setia mengantar.

Mentari berlalu dan berangkat meninggalkan Dewi yang masih saja terpaku di selembar keteduhan, termangu menatapnya dalam tanya yang tak tahu jawabnya. Dewi mengorek-ngorek lagi setiap lembar kertas yang terserak di hatinya, mencoba mencari jawabnya. Apakah Dewi mulai jatuh cinta? Ranum wajah itu kembali menyapa, mengerling manja membahasakan merdunya nyanyian hati di perputaran waktu.

"Kemana saja" tiba-tiba Dewi terhenyak ketika suara dari kotak ungunya berbunyi.

Seseorang yang selama ini selalu datang dan pergi tanpa pernah ada kepastian sampai kapan Sang Dewi harus menunggu. Dewi bercerita pada Mentari, mencurahkan semua gejolak yang membahana di setiap sudut hatinya.

"Berdo'alah agar Allah segera memberikan keputusannya yang terbaik" ucap Mentari.

Dewi meraba garis sketsa ketulusan rasa yang mulai tumbuh di persimpangan maya dan nyata. Menunggu mimpi terindah di ujung senja yang menghalau kejenuhan dunia. Dewi tertunduk mengulum senyum kala sorot netra Mentari teduh menatap. Dewi melempar pandangannya ke arah tebing hati saat tiga anak sungai mencuri perhatiannya. Selaras senyuman indah terbentuk di setiap lini hati Dewi yang mulai terseret dalam santunnya sikap.  

"Tetaplah dalam kesantunanmu ketika menyampaikan setiap bait-bait pesan, karena Allah selalu mengawasi kita" pesan Dewi untuk Mentari.

Selasa, 05 Februari 2013

Sinar Mentari Pagi

Rindu yang tertahan di antara derasnya hujan kini membahana di angkasa ketika pagi ini Mentari bersinar. Indahnya pagi bersenandung di antara gemericik embun yang menetes perlahan dari celah tebing hati. Percikan air hujan yang masih tersisa di kelopak daun berkilau-kilau tersorot cahaya Mentari. Siluet pun menjadi pemandangan yang menyejukkan dan tiada henti membuncah menggetarkan tiang-tiang penyangga kebekuan hati.

"Bertahtalah di singgasana hatiku dan senandungkanlah bait-bait aksara pada dawai kecapimu diiringi gamelan rindu yang bertalu syahdu" ungkap Dewi pada Mentari.

Dewi menikmati lukisan alam di antara semburat fajar yang masih malu menampakkan sinarnya. Ia menatap ranum wajah Mentari meracik rasa dengan alunan nada merdu. Tawa canda kupu-kupu riang gembira menyeruput sari yang bergelayut di pucuk-pucuk bunga terus menuju lembah jiwa membawa sejuta cerita cinta. Mentari menerpa dari sela-sela ranting dan menerobos masuk mengisi setiap ruas hatinya.

Dewi terhanyut di pelataran hati Mentari dalam alunan harpa yang menggetarkan sendi-sendi jiwanya. Ia mencoba menuangkan tinta rasa dalam kanvas syair bercorak rindu pada kain sutra yang biru dan menyimpannya di sebuah telaga kasih.

Senadung pagi ini mengalun merdu seirama detak jantung dalam nada seruling jiwa. Ia terharu pada keindahan makna yang sulit terungkap, ketika jemari rasa menyentuh kelopak hatinya. Kemudian debar rasa bertalu mengusap lembut bilik jantung terus menuju muara kalbu.

"Aku jatuh cinta pada kelembutan nurani" Dewi membuka jendela hatinya dan menemukan kuncup-kuncup rasa yang mulai bermekaran.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini" bait-bait kalamullah menghias kalbu Dewi.

Minggu, 03 Februari 2013

Mentari Tertutup Awan

"Kau memang Mentari di hati bidadarimu, tapi ada saat-saat dimana awan gelap menutup sorotan sinarmu dari dirinya. Tiba-tiba ia seolah tak mendamba kehadiramu, tak ingin dijamah sinarmu."

 Dewi merenung di bawah derasnya hujan ketika pesan itu sampai di kotak ungunya. "Mentari?"

Perlahan Dewi membacanya "Siapa yang mengirim pesan ini?"

"Mengapa ada nama Mentari dalam pesan tersebut? Dan siapa yang dimaksud bidadari?" Batin Dewi terus bertanya-tanya.

Dewi mencari sosok Mentari di antara derasnya hujan, jiwanya selalu merindukan hangatnya sinar Mentari. Ia terus berjalan meski ragu hati menggebu-gebu, laksana ombak deras yang menghempas. Dewi berhenti sejenak, renungkan tanda tanya yang setiap saat mengetuk pintu kalbu, adakah ketulusan?

"Bukan! Bukan ia tak percaya akan tulusnya kasihmu. Ia hanya sekedar butuh perhatian lebih darimu. Mendengar ia bertutur tentang beban hati yang sedang memenuhi rongga dadanya. Ia ingin berbagi denganmu karena ia sangat lemah dan dirimu lah harapannya untuk berbagi." pesan kembali masuk di kotak ungunya.

Dewi berjalan dalam lorong gelap, suasana berubah menjadi pilu, kemudian keraguan mewarnai pelangi di hatinya. Terbesit tanya dalam benaknya, "Benarkah semua itu?"

Biarlah Allah yang beri jawaban, dan biarkan pula Dewi terus mencari hingga menemukan terang, laksana pekat malam yang sabar menunggu hadirnya Mentari.

"Jadilah wanita penyabar" ucap teman Sang Dewi.

Sabtu, 05 Januari 2013

Simfoni Bersama Mentari

Pagi ini Dewi terduduk di bawah pohon bersama Mentari, kehadiran Mentari bertabur makna bagi Dewi. Mentari telah mampu menyegarkan bait-bait kerinduan Sang Dewi. Layaknya simfoni kehidupan yang tak pernah berhenti menginspirasi, menumbuhkan bibit kedamaian.

Keindahan Mentari jelas terpancar dalam benak Dewi, semburat cahaya Mentari pagi melukiskan tinta emas di langit. Mentari selalu membawa bingkisan senyum yang dibalut kehangatan, tanpa pernah berharap untuk tetap menyinari Dewi ketika suatu waktu ia harus pergi. Mentari datang dengan pasti membuka pintu cakrawala dalam jiwa dan pergi meninggalkan Dewi dengan kesederhanaan yang telah mengasuh tebaran pesona keikhlasan.

"Semoga berakhir bahagia baik itu dengan Sang Mentari ataupun dengan Mentari lainnya yang bisa mengisi hati Dewi" ucap teman Dewi.

Dewi sebenarnya tak ingin Mentari pergi. Simfoni bersama Mentari telah bergema dalam ruang hatinya, Mentari selalu melantunkan melodi indah meski terkadang iramanya manggores hati.

"Bagaikan Rembulan dan Mentari, tak mungkin seiring sejalan, simfoni ini sebuah elegi, dua irama di satu jalanan" senandung di telinga Dewi.

Tapi ia tak pernah merasa sia-sia telah mencintai kekasihnya, meski pada akhirnya ia pun harus kehilangan Mentari. Terutama semburat cahaya Mentari yang selalu menembus sela-sela rimbun dedaunan hatinya. 

Gemerincing angin bertiup sayup menguap, lalu mengatup letup. Gerimis pun berbaris manis mencipta derai di mata Sang Dewi, mengembun rimbun. Ia bersandar pada pijar yang mencurah dalam cercah cahaya, dan menikmati tiap tetes air yang jatuh dari langit. Gusar menampar sayu wajahnya, Mentari pun beranjak pergi menginggalkan debar yang berlayar di tepian hati.

Minggu, 30 Desember 2012

Menanti Sinar Mentari

Bila rindu ini masih milikmu, ku hadirkan sebuah tanya untukmu, harus berapa lama aku menunggumu, aku menunggumu... 

Rasa ini belum pergi, masih tetap bersemayam dalam hati Dewi. Meskipun ada perih yang menjalar, tapi itulah bagian dari mencintai.  Dalam kesunyian malam yang mencekam, Dewi masih menanti Mentari meski ia pun merasa lelah. Ia yakin, bahwa Mentari akan hadir.

"Mentari" Dewi menyebut namanya di tengah keheningan malam. Apakah Mentari mendengar seruan Sang Dewi?

Dewi sangat yakin, Mentari akan bersinar indah pada kalanya, cantik pada masanya. Dengan porsi yang sesuai, dengan ritme yang harmonis. Tentang Mentari yang menghias pagi, melembutkan hati, dan memberikan banyak pembelajaran.

"Seringkali hal yang bagimu itu biasa, tapi bagi orang lain itu luar biasa" ucap Mentari ketika hatinya tersentuh oleh pesona Sang Dewi.

"Maafkan aku jika telah mengusik hatimu" permohonan maaf ini masih tersimpan dalam benak Dewi. Menunggu moment yang tepat untuk disampaikan kepada Mentari.

Jumat, 21 Desember 2012

Elegi Sang Mentari

"Seperti butiran embun yang menitikan kesejukan pada sebuah kelopak daun, seputik hatimu pun menawarkan segala keindahan kasih." pesan terkirim untuk Mentari.

Meski hanya setitik, namun dapat menyentuh keangkuhan hati Dewi. Dan butiran kebeningan embun itu adalah sebentuk hati Mentari. Mentari memberikan siraman kelembutan yang selama ini hanyalah sebuah impian bagi Dewi, yang selalu berulang singgah dan sirna hanya dalam sekian masa. 


"Aku masih mencintainya" kembali batin Dewi berbisik.

Kapan rasa itu hadir Dewi pun tak menyadarinya. "Sungguh sebuah tanya yang terindah, bagaimana dia merengkuh sadarku, tak perlu ku bermimpi yang indah, karena ada dia di hidupku" pesan kembali terkirim untuk Mentari.  


Tapi Mentari tak selamanya menjelma menjadi embun pagi. Seringkali awan-awan kelabu menghalangi bias Sang Mentari.  Terkadang rasa ini mewujudkan tangisan-tangisan malam Dewi. "Mengapa jiwaku terasa perih?" tanya Dewi pada Sang Malam.
 

Seringkali Mentari menerbangkan asa Dewi di langit biru. Namun terkadang ia membiarkan Dewi terjatuh dalam kubangan harapan yang tak pasti.
 

"Pada akhirnya, segala sesuatu akan selalu kembali kepada takdirnya" ucap Mentari.
 

Dewi membuka jendela hatinya. Ia melihat hatinya retak.  Ia masih menanti Mentari yang akan mengganti sayapnya yang patah oleh cinta. Mentari yang mengumpulkan lembaran-lembaran elegi yang Dewi tulis dengan air mata.

Cinta tak henti-hentinya menguji Dewi. Gelombangnya begitu besar mengombang-ambing. Cahayanya terik meluluhkan pilar-pilar hati Dewi. Perlahan Dewi mulai memahami untuk melepaskan dan mengikhlaskan. "Allah, aku kembalikan hati ini kepadaMu. Sebab hanya Kaulah yang menggenggam sekeping hatiku ini" Dewi pun terlelap dalam tidurnya.

Rabu, 12 Desember 2012

Mentari Beranjak Pergi

"Bahkan saat kau memutuskan untuk membuang jauh-jauh bayangan dirinya dari hidupmu pun, dia tetap berjanji pada dirinya untuk memberi yang terbaik sekuat yang ia mampu untuk bidadarinya. Maka jika apa yang kau katakan dua hari yang silam itu benar, tolong sampaikan manfaat apa yang sudah ia peroleh dan harapkan dari cintanya yang telah luput dari pengetahuannya. Mentarimu hanya manusia biasa. Ada banyak hal yang alpa dari kesadarannya. Sampaikanlah padanya agar ia bisa menyebutnya dalam do'a dan istighfarnya." kalimat itu membuat Dewi terpaku dalam perenungan.

"Berikan aku waktu tuk menikmati rasa ini. Aku hanya butuh waktu tuk memahat puing-puing asa menjadi bangunan keyakinan yang kokoh." batin Dewi berbisik.

Seperti janji-Nya mempergilirkan siang dan malam, pun roda kehidupan terus berputar, adakalanya langit biru, terkadang gelap pekat memayungi. Jika kini panas terik ditingkahi rinai hujan, mungkin esok hujan sepanjang hari. Jika hari ini cerah menghangatkan, mungkin esok terik matahari membakar.

Ya, Mentari tak selalu hadir menyapa, terkadang mendung. Begitu pun dengan cintanya, tapi dengan segala keterbatasan yang ada, ia berani mencintai kekasihnya. Dewi bisa merasakan hangatnya sinar Mentari, meski terkadang terik panasnya menyengat. Dewi pun bisa merasakan pelita itu menerangi bilik-bilik hatinya, meski terkadang kegelapan memayungi. Mentari hanya manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Hakikatnya, kesempurnaan hanya milik Sang Khalik.  

"Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepadamu. Namun cinta dalam jiwa hanyalah padamu. Maafkanlah bila hati, tak sempurna mencintaimu. Dalam dada ku harap hanya, dirimu yang bertahta" lirik lagu "Rapuh" menemani lamunan Dewi.  

Mentari tak selalu menemanimu setiap saat, jika senja tiba ia harus kembali ke peraduannya. Tapi tugasnya tak selesai sampai di situ, karena sejatinya Mentari sedang menyinari belahan bumi yang lain. Meskipun Dewi tak bisa melihat Mentari di malam hari, tapi cahaya rembulan adalah pantulan dari sinarnya. Lihat bagaimana cara Mentari mencinta, dalam ketiadaannya ia masih berusaha memberikan yang terbaik untuk kekasihnya. 

Ternyata kehadiran Mentari telah menggangu sistem keseimbangan hati Dewi. Tak terasa bulu mata Dewi yang lentik basah oleh air mata. "Dan matahari berjalan ke tempat peristirahatannya"

Senin, 03 Desember 2012

Rindu Sinar Mentari

"Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu, seperti udara yang ku hela kau selalu ada. Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang, tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi"

"Ada yang menunggumu di telaga rindu" ucap sekeping hati pada Mentari. Telaga yang tak pernah kering akan kerinduan yang mendalam. 

Dewi rindu pada semburat cahaya di antara rindang pepohonan. Lalu ia berteriak  "Mentari, aku di sini!" tapi teriakan itu hanya bergema di hatinya. 

Diam penuh gejolak dalam hati yang tersamarkan oleh senyuman. Apa yang bisa terlihat saat senyum mengembang di antara perih yang masih tersisa? 

"Senyum itu melegakan hati" ucap Mentari beberapa tahun silam. 

Dewi menatap Mentari dari kejauhan, namun hanya sebatas menatap. Mulutnya seolah terkunci untuk memanggil Mentari. Rindu hanya sebuah rindu yang tak terkatakan. Dewi bersandar di bawah pohon rindang, dalam dinginnya kerinduan yang tak tersampaikan. Detik demi detik waktu terus berjalan. 

"Di mana Dewi?" Mentari terlihat gelisah, ada segurat kecewa di wajahnya.

Mentari pun beranjak pergi, Dewi hanya menatap kepergiannya. Ia tak ingin menyentuh hati Mentari lagi. Senja menenggelamkan Mentari di ufuk kerinduan. Dewi menghela nafas, mencoba menerima dan tetap dalam kebisuan. Dan jarak menjadikan semuanya tetap dalam kerinduan.

Ketika gejolak itu semakin kuat, rindu itu membakar hati. "Terima kasih atas hari, aku bisa melihat Mentari meski dari jauh"

"Biarkan rindu itu tetap ada, akan aku titipkan rindu pada Mentari pagi" Mentari selalu berusaha mengahangatkan pagi dengan sinarnya. Dewi tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca pada akhirnya air mata itu tak terbendung lagi. 

"Tak perlu meminta maaf, jika harus ada yang disalahkan itu adalah aku" Dewi teringat perkataan Mentari.

Sabtu, 01 Desember 2012

Setulus Cinta Mentari


“Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu. Jalan pikiranmu buatku ragu, tak mungkin ini terus bertahan”

Sekali lagi Dewi tersesat pada gulungan rasa cinta. Meskipun lelah, ia masih belum bisa mengusir seseorang yang telah membelenggu hatinya. Terdengar begitu random? Ya, begitulah. Untuk kesekian kalinya Dewi harus belajar melupakan seseorang.

Sore ini hujan, tanpa sengaja Dewi terseret dalam lorong kenangan, terpelanting bertubi-tubi. Hujan sangat sukses mendramatisir semuanya. Seakan cerita lama sedang bebas berkoar-koar dalam benak Dewi, menyemai benih-benih inspirasi.

Dewi membuang pandangan ke arah jendela yang sudah berlumur buih-buih rerintik, mereka seperti sedang menertawai perempuan berkerudung ungu itu. Dewi tengah jatuh di titik jenuh, tanpa sengaja bulir air menetes dari pelupuk matanya. Hujan selalu mengerti saat lengkung senyum terbentuk tapi jiwa meneriaki perih. Ia mewakili air mata yang terdiam.

"Aku butuh Mentari" batin Dewi. Tapi kali ini Dewi pun tak mungkin mengharapkan Mentari. Hujan membuat Mentari bersembunyi di balik awan.

"Kring... Kring..." suara dering telepon genggam. Pintu hati yang berdecit memaksa meraih kotak ungu itu.

"Apa yang tidak mungkin di dunia ini" begitu kata Mentari ketika mendengarkan keluh kesah Dewi.

"Bolehkah aku hadir dalam mimpimu? Menyelinap diam-diam sekedar menyapa dan berucap terima kasih" pinta Dewi. 

"Setelah itu?" tanya Mentari.

"Tenang saja, aku akan pergi secepat air yang terbakar matahari" dalam sadar Dewi berharap Mentari menahannya, sayangnya ragu terlanjur menyebar.

Pikiran Dewi mulai menjelajah waktu, memutar cuplikan cerita terdahulu, memproyeksikan sang Mentari. "Kau yang selalu merotasikan spektrum di bawah timbunan waktu. Namun akhirnya harus aku sudahi memimpikanmu. Kau yang masih jadi bagian do'aku" bulir air itu kembali menetes di pipinya.

Kabut rindu tumpah, kali ini semakin tebal. Dada Dewi mendadak sesak! "Mengetahuimu mencintaiku, seakan menjatuhkan musim sebelum waktunya. Sehingga merindukanmu dan tidak tersalur akan menjadi begitu meracun pada sirkulasi jantungku" Dewi sulit menepis rasa rindunya pada Mentari.

"Ah, aku masih mencintainya" dalam nanar Dewi masih berharap, tapi biar hujan menghapus jejak Mentari. Mungkin Dewi akan bertemu seseorang yang akan mencintainya setulus cinta Mentari.

Minggu, 11 November 2012

Biarkan Mentari Berlalu

Tanpa ditulis pun, kenangan tetap serupa buku. Lembar demi lembarnya selalu terbuka tiap kali kita mengingatnya. Kenangan itu ibarat cermin. Dari bening dan buramnya, dari utuh dan retaknya, kita berkaca. Jika kenangan kita adalah memar senja, di titik itulah kita mengingatnya. Jika kenangan kita adalah pelangi senja, maka di tempat kita berdiri sekarang, aku yakin kita berbahagia. 
  
Dewi mengukir kenangan dalam kesendirian, merangkainya satu persatu dalam dinding hatinya. Kenangan itu menjadi desiran yang bisa dinikmatinya setiap waktu, jiwanya menggapai setiap kisi-kisi indah dari kenangan itu. Kenangan tentang Sang Mentari.

Kenangan itu begitu terpeta di jiwanya. Betapa tidak, selama tiga tahun ia mengenal Mentari. Seseorang yang selama ini menjadi motivator untuk Dewi berubah menjadi lebih baik. Tapi mungkin Dewi tak akan lagi bertemu dengannya. Kenapa?

Mentari tak lagi menyiramkan benderang cahaya di pucuk langit hati Dewi. Sejak beberapa hari lalu, pucuk cahaya itu telah memaklumatkan keredupannya. Di hati Dewi, Mentari tak lagi bermandikan sejuta kerlap kerlip bagaikan di sebuah negeri kunang-kunang.

Jelaga cahaya yang mempesona itu hilang. Dewi tertatih-tatih mengembalikan detail ingatannya dalam buku kenangan. Dan salah satu isi jalan kenangan yang paling berkesan itu, yang ia ingat secara sempurna, ketika Mentari selalu menyejukkan hatinya. Tapi itu semua hanya akan menjadi sejumput kisah di masa lalu.

Mentari berlalu di hadapan Dewi, terbenam membawa sejuta kenangan. Dan Dewi tak akan menunggu lagi kehadirannya. Biarkan hari esok Mentari terbit tanpa Dewi di sampingnya. Meskipun Dewi akan terbakar rindu sinarnya. Tapi Dewi harus melepas kepergian Mentari.

"Tolong jaga dan selalu ingat semua yang positif yang kau dapatkan dari aku, lalu buanglah jauh-jauh semua yang negatif dari aku" pesan terakhir Mentari.

Senin, 17 September 2012

Secarik Kertas Harapan

"Senangnya hatiku, hilang panas demamku" senang rasanya bergelut dengan suasana baru di kampus, bersyukur sekali karena Allah telah mengabulkan satu persatu harapanku, 10 tahun yang lalu aku pernah menulis di secarik kertas, tentang impianku 10 tahun mendatang. Di mulai dari harapan lulus Ujian Akhir Nasional "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?", kemudian aku ikut SPBM saat itu aku mengambil pilihan pertama Komunikasi dan pilihan kedua Bahasa Indonesia di UNPAD tapi sayangnya aku tidak lolos SPMB.

Akhirnya aku masuk salah satu Lembaga Pendidikan di Bandung, setahun kemudian aku sudah mulai training di perusahaan, kemudian bekerja. Tapi  karena satu dan lain hal akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kerja dan memilih untuk menuntut ilmu di Pesatren yang berada di Tasikmalaya "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" dan ini juga salah satu harapanku ketika masih duduk di SMA.


Hampir satu tahun aku belajar di sana, tapi akupun memutuskan untuk keluar dan mencari rezeki lagi. Aku kembali bekerja di Jakarta, dan beberapa bulan kemudian aku masuk kuliah di Universitas Bung Karno, tapi jurusan yang aku ambil bukan Komunikasi atau Bahasa Indonesia jutru Ilmu Hukum, padahal cita-citaku di secarik kertas itu menjadi Sastrawan dan Wartawan. Tapi intinya harapanku terkabul kembali kerja sambil kuliah "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".


Setahun kemudian Allah mengabulkan lagi harapanku, belajar Bahasa Arab di Almanar "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Tahun ini Allah pun mengabulkan lagi harapanku, aku bertemu dengan seorang Ustadz yang berkecimpung di dunia jurnalistik, aku mulai belajar membuat artikel dan ternyata saudaraku mengajakku untuk bergabung di RRI Bandung. Berarti cita-citaku untuk menjadi Sastrawan meskipun tidak sekolah sastra dan cita-citaku untuk menjadi Wartawan meskipun tidak sekolah jurnalistik itu semua bisa terwujud "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".


Dulu waktu aku masih kecil, aku sering menulis namaku dengan gelar yang berderet dan alhamdulillah aku sudah punya gelar Sarjana Hukum "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?", dua tahun lagi isnya Allah aku dapat gelar Magister Hukum, dan ketika aku akan masuk kuliah S2, ayahku bilang "Kalau mau sekolah sampai jadi Doktor silahkan" Subhanallah "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".


Aku di tahun ini bercerita pada temanku, ingin belajar politik dan lagi Dia mengabulkan harapanku di tahun ini juga, salah satu mata kuliahku di magister adalah Politik Hukum, awal aku orientasi, ada kuliah umum bersama Burhanudin Muhtadi mengenai politik, seminggu kemudian ada kuliah umum bersama Ketua Komisi Yudisial dan membahas tentang hukum dan politik. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".

Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya, ia tidak terlalu cepat memberi dan tidak pula terlambat. Termasuk ia yang sedang aku nanti, aku menantimu karena Allah.